Salah satu faktor yang mereduksi nilai keteladanan leadership dan manajemen Rasulullah Saw adalah rabun dekat dari kalangan Muslim sendiri. Yang dimaksud rabun dekat adalah ketidakmampuan melihat perjalanan hidup Rasulullah Saw secara lengkap dan holistik baik dimensi sosial, politik, militer, edukasi, dan hukum kemudian memformulasikan nilai-nilai keteladanan tersebut kedalam suatu model yang dapat diteladani dengan mudah. Itulah yang dikatakan M. Syafi’i Antonio dalam bukunya Muhammad Saw the Super Leader Super Manager.
Saat ini kalangan umat Muslim terasa terisolasi dari keteladanan nabi ketika menjalani aktifitas kesehariannya. Seolah-olah Rasulullah Saw itu hanya tokoh agama sebagai nabi dan rasul yang sosoknya hanya dihadirkan di majelis-majelis, masjid ataupun musholla dan terasa terlalu jauh untuk ditiru keteladannya. Padahal kalau kita melihat perjalanannya secara holistik (menyeluruh) tentu kita akan melihat hikmah yang begitu dalam dari sosok beliau. Sosok sebagai pedagang, pengembala, kepala keluarga, panglima perang hingga sebagai pemimpin negara maupun agama. Yang membedakan dengan kita, beliau adalah seorang utusan yang menerima wahyu untuk disampaikan kepada umatnya. Terlepas dari itu beliau adalah manusia yang sama. Lantas bagaimana ungkapan rasa cinta kita kepada Rasulullah Saw, apakah hanya dengan bersholawat saja?
Bersholawat kepada nabi adalah sunnah bahkan Allah sendiri bersholawat kepada Rasulullah Saw “Innallahawamalaaikatahuyushalluna’alannabi.” Besholawat kepada nabi sangat dianjurkan dan disunahkan. Namun sudah sampai manakah sholawat yang kita baca? apakah sudah sampai hati dan menjadi perilaku?. Sering kita mendengar para pejabat tertangkap kasus korupsi menggelapkan dana ataupun hanya sekedar mendapat gratifikasi. Mereka juga seorang Muslim mereka berhaji mereka bersholawat namun mereka tidak menghadirkan akhlak dan keteladan nabi Saw dalam kehidupannya terutama didalam kantornya saat menjalankan amanah yang diembanya. Hal itu juga menjadi pengingat bagi diri kita sudahkah kita menghadirkan keteladanan Rasulullah Saw dalam kehidupan kita.
Hari ini kita dihadapkan oleh permasalahan negara yang begitu rumit dan tak kunjung usai mulai dari pandemi, hutang negara, ketidakjelasan bernegara, sampai kebijakan yang begitu mencekik masyarakat. Hal itu disatu sisi mungkin sebagai ujian kita sebagai sebuah bangsa namun tidak dipungkiri bahwa bangsa ini belum menghadirkan akhlak dan keteladanan Rasulullah Saw dalam setiap segmen kehidupan baik itu pribadi maupun bernegara.
Kemampuan kita dalam memahami sosok Rasulullah Saw secara holistik sudah pasti akan mempengaruhi pandangan hidup kita termasuk pandangan perilaku pribadi, pandangan dalam bernegara, pandangan dalam menentukan kebijakan, hukum, politik, pendidikan dan berbagai segmen kehidupan lainya.
Dalam hal ini tugas menyampaikan kisah-kisah akhlak dan keteladanan Rasulullah Saw bukan lagi hanya tugas Ulama, melainkan tugas kita bersama menyampaikan dakwah dan ajaran Rasulullah Saw agar termanifestasi dalam kehidupan setiap orang.
Menyelami sosok Rasulullah Saw tentu tak akan ada bosannya, membaca puluhan buku sirah tentangnya pun belum cukup untuk mengisi kerinduan kepadanya. Namun menjadi pengingat bersama adalah bagaimana kita tidak hanya sebagai pembaca kisahnya namun lebih jauh lagi yaitu menghadirkan sosok Rasulullah Saw dalam hati kita dan mempraktikan akhlak dan keteladan dari beliau Saw dalam kehidupan sehari-hari.
Akhmad Suhrowardi
