Di tahun 2016, ketika menuliskan esai-esai ringkas dalam buku Recharge Semangat Dakwah, saya pernah berpikir seperti ini. Setiap momentum pemilu, rakyat kecil selalu saja terkena dampak serangan fajar ataupun money politik. Akibatnya partai-partai umat yang tak menggunakan begituan, bisa dipastikan kalah. Kala itu saya berpikir, setiap tahun orang terdidik kita meningkat dan bertambah banyak. Dalam artian orang terdidik itu orang yang mengenyam pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi. Itu dulu, meski di saat pandemi seperti ini saya kurang begitu mengerti faktanya, apakah meningkat atau justru menurun.
Saya memperhatikan, di desa-desa sebelum dan setelah tahun-tahun itu, memang begitu banyak pemuda-pemuda yang menimba ilmu sampai perguruan tinggi. Sehingga saya berpikir bahwa dua puluh sampai tiga puluh tahun yang akan datang, sebagian besar masyarakat kita akan dipenui oleh generasi-generasi terdidik. Itulah mengapa tahun 2045 disebut-sebut sebagai momentum Indonesia Emas. Selain karena banyaknya orang yang terdidik, teknologi—misal saja smartphone—juga sudah dipakai dari balita sampai manula. Hari ini sudah bisa dilihat, begitu banyak balita sudah disuguhi gawai. Mungkin manula di desa yang tak memegangnya. Kalau di kota-kota, orang lanjut usia saja pakai gawai.
Dua hal itu yang pernah masuk ke dalam pikiran saya di tahun 2016 ketika aktivitas memang banyak berpikir dan seringkali aksi di jalanan. Wah “berandalan” sekali yah saya waktu itu. Saya melihat Indonesia Emas itu sesuatu yang mungkin karena dua hal ini. Artinya modernitas dan kemajuan akan melingkupi masyarakat kita. Buta politik hari demi hari akan pudar. Masyarakat akan lebih pintar.
Namun, kala itu saya juga berpikir. Dua hal ini saja tak akan cukup untuk mewujudkan peradaban yang beradab. Kalau peradaban yang modern barangkali cukup. Tetapi yang kita inginkan selaku umat Islam bukan sekadar modern dan maju layaknya yang Barat pahami. Modern dan maju yang harus kita pahami adalah sesuai pandangan hidup Islam. Artinya selain dua hal di atas, masih dibutuhkan satu hal lagi: pendidikan akhlak.
Pendidikan akhlak atau jiwa atau moralitas atau agama atau apapun sebutannya itu adalah hal yang penting untuk mengimbangi dua hal di atas. Pendidikan akhlak akan memandu para orang terdidik dan berteknologi agar berperilaku sesuai pandangan hidup Islam. Hasilnya, munculnya para pemimpin—di segala aspek—yang berintegritas, berkapasitas, serta memiliki acceptabilitas bukan hal yang mustahil. Persoalan serangan fajar atau money politik sudah tak menggoda mereka. Kalaupun ada yang melakukannya, mereka akan menganggap itu sebagai dagelan saja.
Tetapi akan menjadi sebaliknya kalau pendidikan akhlak ini hilang. Indonesia bisa seperti Barat pada hari ini. Munculnya orang-orang yang krisis terhadap dirinya sendiri, munculnya pemahaman kebebasan yang tak berpegang pada pandangan hidup Islam, dekadensi moral, terlalu pragmatis dan materialis, sampai pada ujungnya bermunculan mistik dan klenik seperti perdukunan dan sihir. Itu terjadi karena pada faktanya dan ini memang fitrahnya bahwa manusia tetap membutuhkan sesuatu yang ghaib—dalam hal ini Tuhan.
Jadi, tiga hal itu sebenarnya dari sekarang bisa dijadikan paket satu kesatuan melalu lajur-lajur pendidikan kita. Sebenarnya tujuan pendidikan nasional kita sudah mencantumkan satu paket itu. Meski sayangnya, pada realitas di lapangan tak semuanya begitu. Kalimat Pak Haidar Baghir mungkin cukup bagus untuk kita renungi: memuliakan sekolah, memuliakan manusia. []
Viki Adi Nugroho
