Aku pertama kali mendengarnya dari umi. Umiku memang pandai sekali. Bukan hanya hal-hal domestik yang dikerjakannya. Karena umiku seorang guru, maka keterampilang ajar-mengajar ia kuasai. Umiku juga pandai menulis. Walaupun saat umi mengikuti lomba menulis cerpen tidak menang, tapi menurutku cerpen itu sudah cukup menembus hati salah satu anaknya hingga terus teringat hingga kini. Ya, judul cerpennya adalah cinta 100%.
Cerpen atau cerita pendek yang ditulis umi menceritakan tentang seorang anak perempuan-lupa namanya-yang ingin sekali memiliki adik. Alhamdulillah, Allah mengabulkan keinginannya. Ibunya pun hamil dan lahirlah adik kecil. Ia pun memiliki adik. Namun ternyata, memiliki adik mengubah segalanya. Kini ibunya yang biasanya memberi waktu sepenuhnya untuk dia, kini harus berbagi kepada sang adik. Ia jadi merasa tidak diperhatikan. Kadang kala ibu lebih mendahulukan keperluan sang adik. Baiklah kita sepakati saja dulu namanya dina. Akhirnya Dina merasa sedih dan iri kepada adiknya. Tetapi sebenarnya, ibu tak bermaksud begitu. Hanya saja memang adik masih sangat membutuhkan pertolongan ibu, karena adik masih bayi.
Hingga suatu hari, Dina pun jatuh sakit. Ibu sangat khawatir. Ibu memberi perhatian kepada Dina. Merawat Dina, menyuapinya, hingga Dina mulai membaik. Saat itu Dina berkata pada ibu.
“Ibu, Dina pikir ibu sudah tidak sayang Dina. Ternyata ibu masih sayang dengan Dina”.
Ibu terkejut dengan perkataan Dina. Ibu mengatakan. Cinta ibu kepada Dina dan adik sama sama 100%. Tak kurang dari itu. Hanya saja bentuk cinta ibu kepada dina dan adik tentu berbeda. Karena adik masih harus dimandikan, disusui, dan sebagainya. Sementara dina sudah bisa melakukan hal tadi sendiri. Jadi Dina tidak perlu berfikir seperti itu. Ibu sangat sayang kepada dina maupun adik.
Sekian. Itu singkat isi cerpen umi. Maka setiap kali aku iri dengan adik ataupun kakak-karena anak tengah-aku selalu ingat cerpen ini. Tentu umi membuat cerita tidak asal. Selalu ada nilai yang ingin diberikan. Aku pikir cinta Allah kepada hambanya pun sama. Cinta 100%. Mungkin dulu, kakak-kakak merasakan bahagianya wisuda bersama orang tua, bisa berfoto bersama keluarga. Kini, aku tidak. Apa itu tandanya cinta Allah kepada kami berbeda? Mungkin secara lahiriah berbeda. Tapi sebagai org yg beriman, tentu aku meyakini bahwa cintanya tetap sama. Hanya saja bentuk kenikmatannya saja yang berbeda. Selalu ada kebaikan dibalik setiap peristiwa. Berbaik sangkalah, insyaa allah tenang hatimu.
Wardah Hanifah
