Manusia adalah makhluk sosial. Dia tidak akan bisa hidup tanpa orang lain. Sekuat apapun ia, dia tidak akan bisa menjalani hidup ini sendiri. Namun dalam bersosial kita harus memahami bahwa setiap orang memiliki sikap, sifat yang beraneka macam. Kita akan menemukan orang yang sikap nya begitu baik dan adapula sebaliknya. Seperti dalam firmannya:
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
“Maka dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.” (QS. As-Syam: 8)
Manusia dengan fitrahnya memiliki sifat yang buruk dan baik. Manusia tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang bersih dari dosa. Namun, ada manusia yang terus mencoba memperbaiki diri. Dia menyadari ada sifat buruk dalam dirinya. Kemudian ia mencari obatnya, sehingga keburukan itu bisa diminimalisir dan akhirnya kebaikanlah yang menonjol.
Dalam kehidupan sehari-hari pastinya kita akan bersosilisasi dengan banyak orang. Adakalanya orang yang kita temui membuat hati kesal. Itulah manusia, kita tidak bisa menuntut seseorang agar bersikap sesuai kemauan kita. Lalu bagaimana? Apa kita harus mencari manusia yang tanpa cela? Sehingga sikap nya tidak membuat kesal apalagi sampai membebani fikiran. Jika itu keputusnnya, maka kita tidak akan pernah menemukannya.
Lalu bagaimana? Kondisikan hati dan pikiran kita. Yang membebani kita adalah hati dan pikiran kita sendiri. Terkadang kita salah mengartikan sikap orang lain. Menata hati itu sangat penting, agar kita tak mudah kecewa. Ada orang yang tidak bisa menerima niat baik orang lain karena ia tidak bisa menata hatinya. Orang yang mampu mengambil kebaikan bahkan dari keburukan yang dilakulan orang lain kepadanya, maka hati dan pikirannya akan tenang. Jiwanya akan dipenuhi dengan keikhlasan.
Krui, 22 Agustus 2021
Mega Muslimah
