Dalam dua kelas online yang saya ikuti hari ini, pertama membahas tentang keamanan jaringan komputer dengan pakar IT Pak Onno W Purbo, dan yang kedua adalah kelas tentang nilai filosofis dari sebuah teknologi bersama Pak Juris Arrozy serta pak Andika Saputra.
Dalam kesimpulan yang diberikan pada kajian tentang nilai teknologi, Pak Juris menjelaskan bahwa teknologi tidak bebas nilai berdasarkan empat hal. Pertama, teknologi sebagai artefak atau biasa kita sebut sebagai alat, teknologi selalu memiliki bentuk bukan hanya benda canggih seperti komputer atau gawai pintar zaman sekarang. Pisau dapur, gayung mandi, piring gelas dan sebagainya itu semua juga sebuah bentuk teknologi. Karena kembali ke definisi dari teknologi itu sendiri, segala sesuatu hal yang memudahkan hidup manusia. Nah teknologi selalu memiliki bentuk desain sesuai kegunaannya, kita ambil contoh pisau, bentuk pisau seperti umumnya sudah bisa dibayangkan, kemudian dijabarkan menjadi pisau dapur dan pisau belati, dari kedua bentuk tersebut keduanya disebut pisau namun berbeda fungsi. Begitulah maksud nilai artefak dalam sebuah teknologi.
Kemudian teknologi sebagai aktivitas. Desain dalam teknologi mengikuti prinsip-prinsip tertentu yang bisa jadi berbeda antar satu produsen dengan yang lainnya. Kita ambil contoh vaksin MR yang difatwakan haram oleh MUI kecuali dalam kondisi terdesak. MUI mengharamkan karena ada unsur babi di dalam proses pembuatan vaksin tersebut, namun jika kondisi mengharuskan untuk memakai vaksin itu dan tidak ada pilihan lain maka diperbolehkan. Inilah sudut pandang kita sebagai seorang muslim, masih menggunakan pertimbangan halal haram serta thoyyib dalam segala urusan. Berbeda dengan masyarakat barat, fatwa MUI yang mengharamkan vaksin itu sempat dikomentari oleh WHO, dikarenakan mereka halnya mempertimbangan vaksin itu aman dan higienis, tanpa ada pertimbangan halal haram thoyyib. Begitulah salah satu contoh teknologi sebagai aktivitas, dan tentu saja kita sebagai umat muslim dengan sudut pandang Islam.
Bersambung… []
Yuri
