Pada pembahasan sebelumnya sudah kita ketahui bersama bahwa adanya dunia maya ini bisa membuat semua orang menjadi siapa saja, bebas menuliskan apa saja di akun media sosialnya. Barangkali, seringnya berupa kegiatan sehari-hari. Bagi para marketer tentu saja ladang basah yang siap untuk digarap, bahkan pada tingkat ekstrim untuk menyebarkan paham konspirasi bagi para pemegang kepentingan.
Terkadang ada satu hal yang luput dari perhatian kita, yaitu ilmu pengetahuan. Berapa banyak dari kita yang memiliki pertemanan di media sosial dengan orang-orang berilmu? Apakah isi beranda kita hanya berisi kabar dari teman kita atau bahkan hanya berisi berita dari akun gosip? Salah satu hadits terkenal menyebutkan bahwa siapa diri kita bisa dilihat dengan siapa kita berteman, berteman dengan tukang pandai besi maka akan terkena percikan-percikan api, berteman dengan tukang parfum maka akan kita dapati wangi parfum pada diri kita.
Mungkin yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara kita mengetahui bahwa orang itu berilmu atau tidak. Pada piramida tingkat pendidikan, Perguruan tinggi atau perkuliahan menduduki posisi atas yang bisa kita artikan bahwa hanya sebagian kecil saja yang bisa mencapai tingkat itu. Karena jumlahnya yang tidak sebanyak SD atau SMP yang ada di tiap daerah, maka momen perkuliahan adalah momen merantau dan bertemu dengan orang luar daerah di satu instansi pendidikan. Meskipun tidak selalu yang berkuliah itu lebih berpendidikan sesuai dengan gelarnya, tapi di wilayah perkuliahan selalu banyak kita dapati jaringan pertemanan baru. Dari banyaknya jaringan baru muncullah banyak diskusi yang dibahas dan menghasilkan banyak hal, salah satunya referensi. Keistimewaan yang bisa kita dapat ketika mengetahui referensi atau sumber yang valid adalah kita tahu harus merujuk kepada pendapat siapa ketika mendapati sebuah persoalan, kita mengetahui mana yang bisa dijadikan rujukan mana yang tidak. Namun sepertinya itu tidak berlaku pada kasus covidiot terkenal, dr Lois yang memutarbalikkan fakta kesehatan, padahal sudah mendapatkan gelar dokter tapi pendapat yang dia lontarkan tidak sebanding dengan gelar yang dimilikinya.
Referensi yang valid sangat penting karena berkaitan dengan pondasi atau dasar apa yang kita letakkan dalam setiap tindakan maupun keputusan. Dalam Islam sendiri kita mengetahui bahwa Al-Quran dan Hadits memiliki tingkatan paling dasar dalam hal referensi, disusul ijma’ dan qiyas setelahnya. Kenyataan yang terjadi sekarang adalah terlalu banyak tulisan di sosial media yang bahkan kita tidak mengetahui tingkat validitasnya. Semua orang bisa menjadi ahli dalam sekejap, berkat mesin pencari; Google. Semua orang bisa berfatwa dan menyuarakan pendapatnya, tapi apakah yang dia suarakan benar atau hanya demi eksistensi diri? Sudah dijelaskan dengan sangat gamblang di kitab suci kita seperti ini, semoga bisa menjadi pengingat untuk kita semua.
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujurat:6)
Tulisan kali ini tidak ingin menyindir personal, hanya ingin mengajak para pembaca sekalian ikut memperhatikan fenomena sosial yang ada sekarang ini. Dan bukan berarti menyarankan untuk menghapus pertemanan di sosial media, hubungan muamalah dengan sesama juga penting. Hanya sedikit refleksi tentang penggunaan media sosial. Sekian. []
Yuri
