Komentar pedas terus dilayangkan para netizen Indonesia ketika merasa bahwa ada kecurangan yang dilakukan pengadil lapangan pada laga Indonesia vs Qatar U23 yang kejadian serupa terulang kembali berlanjut pada pertemuan semi-final Indonesia vs Uzbekistan U23. Dipertandingan tersebut banyak keputusan-keputusan yang dirasa merugikan squad Indonesia. Dan seperti yang anda tahu akun wasit pertandingan itu langsung digeruduk netizen Indonesia dengan komentar-komentar sangat pedas.
Sebenarnya tidak ada yang salah dalam berkomentar jika itu soal putusannya dan dengan dibekali etika yang baik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, semua kata-kata keluar. Tak perlu saya sebutkan apa yang mereka katakan. Atau jangan-jangan kita juga ikut berkomentar berlebihan. Oh, tapi saya yakin pembaca di sini tidak ikut berkomentar semacam itu. Kalau saya hanya nyimak sambil melihat komentar-komentar lucu dan positif yang ternyata nihil.
Sebutan netizen sosmed paling barbar sedunia mungkin pantas untuk disandangkan ke netizen Indonesia. Apa saja dikomentari. Bahkan yang bukan tupoksinya pun dilibas. Tak hanya soal timnas, perdebatan antar ustadz pun ikut dikomentari. Yang rasa-rasanya ko lebih diramaikan oleh para netizen yang saling hujat menghujat dibanding konteks yang sedang diperdebatkan.
Memang kita ini mungkin sudah punya watak komentar-mengomentari kalau kata anak sekarang “Si paling berkomentar” dari sananya, atau kurang perbekalan menghadapi transformasi ke budaya baru yakni bersosial media sehingga kaum cuti nalar ini berkomentar “sekarepe dewe”. Kerjaannya ngomentarin orang lain, dan lupa mengomentari dirinya sendiri. Mungkin juga seperti saya ini bukannya mengomentari diri sendiri (instropeksi), malah berkomentar mengomentari komentar-komentar netizen yang suka berkomentar.
Tapi jangan lupa, komentar ternyata juga ada etika dan ilmunya. Kalo mengomentari tidak pakai ilmu ya jatuhnya fitnah, rasis hingga ujaran kebencian.
Bagi saya, berkomentar itu sah-sah saja selama itu adalah koridor yang kita kuasai, tidak menyinggung SARA dan dengan adab kesopanan. Apabila tidak bisa seperti itu, diam adalah cara terbaik untuk berkomentar. Ya, sebaiknya kita memang harus dibekali ilmu dan akal sehat supaya jari-jari kita tidak lebih cepat dari laju pikiran kita. []
Akhmad Suhrowardi
