“Sangat sering terjadi, guru maupun pengasuh boarding school mengeluhkan adab siswa, tetapi jawabannya kemudian ada pada dirinya sendiri. Adab guru itu sendiri sangat buruk, bahkan ketika meminta ilmu, jangan-jangan ia pun tidak memahami ta’dib (pendidikan dan penempaan adab) sehingga mengiranya sama dengan sekedar memberikan ceramah tentang adab. Sebuah pelajaran, bekal penting menjadi guru adalah pribadi yang baik dan niat yang shahih.” Pesan yang disampaiakan Muhammad Fauzil Adhim dalam tulisan tersebut begitu jelas, bahwa permasalahan dalam dunia pendidikan tidak melulu tertuju pada anak didik. Tentu banyak hal yg harus dievaluasi terutama yang menjadi titik sentral pendidikan itu sendiri yaitu guru.
Seperti Falsafah Jawa: “Guru itu adalah yang digugu dan ditiru”. Seorang guru harus memahami betul perannya sebagai seorang pendidik. Jika hanya sekedar mentransfer ilmu, maka anak-anak pun bisa mencari di internet dan mendapatkan lebih dari apa yang disampaikan oleh gurunya. Namun lebih dari itu, ternyata sikap, bicara, dan marahnya seorang guru itu adalah ilmu bagi anak didiknya. Bagaimana mungkin seorang guru mengharapkan anak didiknya berkata lemah lembut sedangkan gurunya menegur mereka dengan berteriak. Jangan heran jika mereka lebih suka bersusah payah melirik jawaban teman dari pada berjuang mencari tahu sendiri karena Sang guru hanya menekankan pada nilai berwujud angka tanpa mementingkan sebuah proses.
Jika seorang guru sangat memahami perannya, maka dia akan introspeksi diri ketika anak didiknya berbuat kesalahan. Begitu sering kita mendengar istilah “anak nakal” karena Sang anak bertindak diluar kewajaran seperti memukul teman misalnya. Padahal Sang anak hanya butuh penjelasan tentang cara mengekspresikan emosi yang benar. Bahkan mungkin dia sendiri tidak tahu apa itu “anak nakal”, dan bagaimana jika ia baru mengenal dan mendengar kata “anak nakal” itu dari gurunya sendiri.
Perlu diingat, bahwa hakikat pendidikan adalah perubahan menuju kebaikan. Islam mengajarkan untuk mendidik dengan cinta, dan kelemah lembutan. Tujuan utamanya bukan melahirkan anak didik yang pintar tapi tak mengenal Tuhannya. Yang dicita-citakan adalah lahirnya orang-orang yang akan menyebarkan nilai Islam dalam setiap bidang yang digelutinya.
Krui, 16 Agustus 2021
Mega muslimah
