“Cara pertama untuk menjinakkan kemarahan adalah dengan melatih pikiran.” Begitu tulis Abu Zaid al-Balkhi dalam bagian kedua kitab Mashalih al-Abdan wa al-Anfus. Lagi-lagi tentang pikiran. Menurut al-Balkhi, kejernihan pikiran ini sangat penting untuk mengatasi gejala-gejala psikologis yang mengganggu.
Namun, beratnya juga ada di sini. Orang yang sedang mengalami gangguan psikologis, pikirannya cenderung tidak jernih atau susah untuk berpikir “waras”. Oleh karena itu, al-Balkhi menganjurkan agar setiap kita yang sedang waras atau dalam kendali, agar sebisa mungkin untuk menanamkan kesadaran tentang marah di dalam diri sendiri. Keyakinan bahwa kita bisa mengalahkannya, mengenai soal dampak buruknya, dan seterusnya.
Dari situ kita bisa menanamkan selagi pikiran masih jernih. Karena jika tidak begitu, kata al-Balkhi, bisa meledak sejadi-jadinya. Maksudnya, kemarahan tersebut tak bisa terelak ketika muncul di suatu momen. Ledakannya besar, begitu juga dampaknya.
Ketika saya coba membaca terjemah kitab klasik ini, rasanya sungguh menarik. Barang kali, bahasan-bahasan semacam ini sudah sangat banyak di buku psikologi atau self development hari ini. Persoalannya bukan itu, yang jadi masalah adalah kitab ini ditulis dari abad ke-9. Bahkan, al-Balkhi menyebut bahwa kajiannya tersebut (untuk yang khusus pembahasan kesehatan jiwa), adalah yang pertama kali, belum ada kajian-kajian semacam itu di masa tersebut.
Pioner? Bisa dianggap demikian. Artinya, ide, gagasan, dan kitabnya ini melampaui zamannya. Saya pikir, anak muda Muslim masa kini perlu membaca satu karya ini. Bukan hanya soal isinya, tetapi juga dari nilai historisnya. Selain mendapat kajian yang menarik mengenai kesehatan mental, buku-buku semacam ini juga (semoga) bisa menambah kuatnya motivasi, semangat belajar dan berkarya bagi umat. Sehingga, rasa inferior bisa terus menerus terkikis.
Viki Adi N
