Tak Ada Capres & Cawapres Ngomong Buku?

Untuk pertama kali, Pemilu 2024 ini serasa lebih adem. Tidak panas kasak kusuk seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Hal ini terjadi karena saya tidak terlibat sama sekali sebagai salah satu pendukung atau tim pemenangan. Praktis, hanya menonton. Saya yakin, bagi masing-masing tim pemenangan ya pasti panas.

Di rumah (Cilacap), kakak saya sebenarnya nyalon (nyaleg), jelas sekali pasti suasana di rumah sana ramai. Kecuali di rumah saya yang berada di pinggir kali Progo ini, sepi, nyenyet, dan enaknya memang buat tidur sepanjang hari. Sayangnya, pekerjaan tak bisa membuat tidur lebih lama.

Suatu momen, kita mungkin terheran-heran dan berpikir mengapa orang-orang yang dianggap “besar” bisa menghabiskan waktunya untuk memikirkan kepentingan luas. Sementara, orang-orang seperti kita lebih terjebak dengan waktu kita sendiri. Kita masih saja bergulat dengan keperluan dan kebutuhan pribadi yang tiada ujung. Masalah ekonomi (finansial) misalnya, selalu saja membuat konsentrasi kita tersedot paling besar. Sadar atau tidak sadar memang begitu. Sedikit saja masalah ini berguncang dalam sebuah keluarga, bisa-bisa keluarga tersebut bubar.

Belum lagi bicara soal pendidikan formal kita yang begitu mahal. Untuk sampai pada gelar tertinggi di dunia akdemik, dibutuhkan biaya berapa? Coba kalkulasi saja dari mulai UKT S1 sampai biaya doktoral. Belum ketambah biaya profesi (jika diperlukan).

Kadang, lagi-lagi kita juga heran. Mengapa intelektual Muslim di zaman dulu bisa polimat? Mengapa mereka bisa menguasai banyak bidang (ilmu) padahal zaman belum secanggih hari ini? Sementara kita hari ini, membaca buah pikir saja, membaca buku saja (dalam salah satu konteks budaya ilmu) pun enggan. Tak usah ditanya soal polimat, kan?

Sayang memang, di antara debat capres dan cawapres tak ada yang menyinggung budaya ilmu atau buku. Ya, pastilah. Kemakmuran dan keadilan masih menjadi isu sentral utama di Indonesia. Isu yang berkaitan langsung dengan perut atau eksistensi masih menjadi tema paling “menyentuh” manusia Indonesia. Sebagaimana yang kita singgung tadi: menyedot fokus dan energi paling besar, termasuk alam level individu.

Coba kalau ada yang menyinggung buku, ya, pasti tidak ada yang nyobolos (#pis). Padahal, urusan perut itu dinomorduakan ketimbang membaca dan membeli buku oleh intelektual Muslim zaman dahulu. Kekontrasan ini memang terjadi dengan pihak penguasa. Hanya saja, pihak penguasa masih menyukai budaya ilmu meski dengan orientasi dan kepentingannya masing-masing.

Ya, mungkin itu yang hilang atau berbeda di masa ini. Menjajakan uang seratus ribu untuk kuliner terasa lebih murah ketimbang untuk membelanjakan buku. Kalau harga buku sudah di atas lima puluh ribu, rasanya berat sekali. Jika dibandingkan dengan harga kuota, apalagi? Coblos nomor 4! []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *