Rantai Konsekuensi

Setelah 2 hari membaca berita 1 keluarga bunuh diri di malang, aku jadi memikirkan banyak hal.
Aku rasa akhir-akhir ini berita bunuh diri sekeluarga semakin masal aja dan aku turut berduka atas hal itu.
Mereka adalah orang baik tapi mereka belum siap menghadapi kehidupan itu kesimpulanku.

Aku tak heran mengapa Allah SWT menurunkan Wahyu pertamanya adalah perintah untuk membaca.
Membaca disini bukan hanya membaca tulis, tapi membaca diri,membaca lingkungan dan situasi.
Mungkin Allah SWT sudah tahu maha dahsyatnya fitnah iblis pada manusia hingga akhirnya manusia buta akan keadilan dan kebaikan. Yg kuat menindas yg lemah baik secara langsung atau tak langsung.

Takdir kita yg terlahir dari keluarga ( ayah ibu) sederhana memang tak bisa di ubah tapi takdir kehidupan keluarga kita nanti (istri dan anak) inshaallah masih bisa kita usahakan asal syaratnya 1 kita pandai membaca.
Membaca disini bukan hanya membaca ilmu bagaimana kita merubah kehidupan, tapi juga membaca lingkungan agar kita bisa mendapatkan peluang untuk mendapatkan keberuntungan.
Membaca disini bukan hanya membaca tapi juga pengaplikasian dari apa yg kita baca ( kerja)

Lupakanlah dulu pacaran , pernikahan dll.
Lupakanlah dulu janji kemudahan Rizki setelah pernikahan.
Memang janji itu benar tapi ada syaratnya.
Syarat yg pertama kamu harus punya kerjaan yg mapan dulu baru Allah SWT lancarkan rizkinya.
Ibarat air, ia takkan lancar jika tak ada pipa yg jadi alat penyalurnya.
Jika pipa kita tak bisa memuat air banyak , mungkin kita harus membuka pipa lain dgn segala pertimbangan akal sehatnya.

Hutang memang jadi sebuah momok yg menakutkan dalam kehidupan sendiri atau keluarga.
Sudah rahasia umum jika ada orang yg bunuh diri Karna pinjol itu tak di siarkan.
Sudah jadi kebiasaan jika jalan terakhir keluar dari jerat ekonomi adalah bunuh dirinya.
Punya iman saja tak cukup, kita juga harus punya ilmu untuk survive dalam hidup.
Karna di mata dunia dalam uang menguang tak ada saudaranya
Terlebih dalam islampun orang yg punya hutang di anggap marakayangan kematiannya

Jadi belajar dari peristiwa bunuh diri sekeluarga
Kita bisa ambil pelajaran bahwa kesiapan membangun keluarga itu hal utama yg harus di bangun dgn logika bukan atas dasar perasaan.
Janji-janji Allah SWT anggap aja bonus di tengah jalan Karna kita tak tahu jelas kapan datangnya.
Allah SWT sendiri benci sama orang yg malas.
Mana berhak orang malas membangun keluarga?
Lupakanlah cibiran tetangga yg bilang nikah harus di usia 21-25.

Nikahlah di usia dewasamu yg tepat.
Usia yg kamu sudah punya pola pikir dan pola tingkah untuk hidup yg baik, hidup yg sehat dan hidup yg sejahtera agar kamu tak usah bunuh diri ketika menanggung beban kehidupan.
Punya anak 1 Alhamdulillah gak punya anak GPP.
Yang penting adalah kamu berdua taat pada Allah SWT.
Meskipun kamu menikah dlm kondisi tua tapi kamu sudah mapan ilmu,prilaku dan finansialnya maka tak akan ada masalah.
Kamu tak zalim pada dirimu dan zalim pada anakmu.
Wariskanlah kehidupan yg kuat untuk anakmu kelak
Kuat imannya,kuat ilmunya,kuat prilakunya, kerjanya dan finansialnya.
1 anak yg bermanfaat untuk umat itu lebih baik daripada punya 5 anak yg jadi peminta -minta.

Selamat upgrade diri ya.
Sebelum kamu terjerat rantai konsekuensi buruk
Maka gantilah “rantai” dgn semua prilaku baik agar konsekuensinya adalah hasil yg baik.
Semakin kaya,semakin baik,semakin Soleh gak ada yg salah.
Berenang-renang dahulu , berakit-rakit kemudian.
Berjuang-juang terlebih dahulu, lalu berhasil kemudian aamiin.

Rian Amani
Majalengka 15 Desember

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *