Sejak kejadian bunuh diri yang gagal itu, sahabatku satu ini menunjukkan sikap sayang secara agak berlebihan padaku. Jika kami berjumpa di masjid, ia menatapku lama dengan mulut komat-kamit. Pasti ia meminta kepada Ilahi Rabbi agar aku ditunjukkan jalan yang benar, dan agar sanak familinya tidak ada yang berbuat seperti yang kulakukan kemarin. Jika melihatku di pasar, ia serta-merta menyongsong ku dan bertanya apa yang kuperlukan. Jangan khawatir, katanya, sambil mengeluarkan dompetnya yang gendut.
“Tiket bioskop? Film Korea? Film Barat? India? Orkes? Kuaci? Kopi? Hmm, tak ada masalah, 𝘧𝘳𝘪𝘦𝘯𝘥! Bilang saja sama kakakmu ini.”
Aku diam saja
Secara natural, sahabatku ini, memang sesosok malaikat. Di satu sisi ia prihatin akan peristiwa bunuh diri itu, di sisi lain ia memanfaatkannya sepanjang waktu. Jika sedang kesal kepadaku atau sedang menuntut ku untuk melakukan sesuatu sesuai kehendak hatinya dan aku menolak, ia menunjukkan sikap seakan-akan mau membongkar kejadian memalukan itu pada orang-orang. Ia mencekik lehernya sendiri dan menjulurkan lidahnya. Sungguh menyebalkan bukan? Maka, ‘menghamba lah’ aku kepadanya dan ia tersenyum dengan puasnya.
Aku, adalah orang yang bersedia melakukan upaya apa pun meskipun konyol dan tak masuk akal, untuk merebut lagi cinta yang telah diambil orang lain. Cintaku ini terlalu kuat untuk ku lawan. Tapi kenyataan berkata lain, orang-orang menyebutnya ‘cinta bertepuk sebelah tangan’.
Ternyata, jika seseorang hanya memikirkan seseorang saja, bertahun-tahun, dan dari waktu ke waktu mengisi hatinya sendiri dengan cinta hanya untuk orang itu saja, maka saat orang itu pergi, kehilangan menjelma menjadi sakit yang tak tertanggung.
Akhirnya, akhir dari semua hal yang menyakitkan itu adalah keputusan yang pahit harus kuambil, yaitu meninggalkan kampung dan takkan pernah kembali. Aku tak dapat tinggal di sini. Aku tak dapat melihat dia tanpa merasa patah hati.
Yang kuperlukan hanyalah menghormati keputusannya, dan karena Allah SWT telah menciptakan manusia dengan hati dan pikiran yang boleh saja menjalani jalannya masing-masing.
Afif Nur Fauzan
