Ketika membuka instagram, tak sengaja muncul gambar buku Psikologi Islam yang diterbitkan oleh Gaza dengan sistem terbit putus. Caption singkat di bagian bawah gambar menunjukkan kalau orang yang memosting harus cross check karya Prof. al-Attas. Akhirnya coba saya buka.
Wah, ternyata ini bukan sekadar ulasan. Ini kritik. Kritiknya cukup tajam. Bahkan, setajam silet. Kritikan itu diunggah melalui laman medium(dot)com. Saya cukup tercengang sebenarnya. Kritiknya bertubi-tubi. Mulai dari judul, halaman awal (maksudnya mengenai testimoni), sampai terhadap isinya.
Maklum, selama saya menulis buku, selama itu pula saya belum pernah mendapat kritik yang berbentuk tulisan. Kritikan yang saya dapatkan paling ketika bedah buku, saat diskusi buku, saat ngobrol, atau melalui pesan singkat whatsapp. Itu pun lebih banyak yang jatuhnya ke pertanyaan atau semacam ingin mengklarifikasi, kadang ingin mempertegas, dan sebagainya.
Memang menarik. Ketika kita berkarya, kemudian mempublikasikannya, maka sudah menjadi resiko untuk dikritik. Itu adalah hal yang biasa dalam dunia tulis menulis. Apalagi jika tulisan tersebut mengenai pikiran orang besar, tema yang sedang hangat, atau topik-topik sensitif lainnya. Selaku penulis, kita tidak boleh baper atau minder. Justru kita perlu berterimakasih kepada mereka. Kalau ada kekurangan, maka bisa kita perbaiki. Kita bisa belajar lagi.
Kita bisa mengambil kebaikan-kebaikan dari kritik-kritik tersebut. Ambil yang baik, buang yang buruk. Suatu prinsip yang jamak sudah kita ketahui.
Dengan resiko yang seperti itu, jangan sampai membuat kita bersikap sebaliknya, yakni membuat kita justru tak mau berkarya, tak mau menulis, dan tak mau mempublikasikannya.
Kita sudah sama-sama tahu kalau dunia sekarang sudah tak bersekat lagi. Ruang seolah terasa kecil. Sudah saatnya kita menganggap kritik sebagai hal yang biasa atau lazim. Bayangkan di zaman dahulu ketika ruang belum sedekat ini. Para penulis, esais, atau kolumnis berdebat menggunakan media cetak. Ingatlah perdebatan antara Natsir dan Soekarno. Ingatlah perdebatan para tokoh bangsa masa lalu di media cetak.
Jadi, itu biasa. Semoga kita yang sedang memulai belajar untuk terus berkarya bisa diberikan keberanian, kesabaran, dan ketangguhan. []
Viki Adi N
