Menjadi Editor Buku Itu

Jika ditanya bercita-cita menjadi seorang editor buku? Tidak juga. Keinginan yang pernah ada adalah menulis. Walaupun sampai saat ini belum juga berhasil merilis karya. Menyoal cita-cita, rasanya seiring berjalannya waktu “let’s it flow” saja hahaha. Tentunya tetap ingin mengalir yang terarah bukan asal mengalir.

Sedari kecil sampai (setidaknya) awal mengenal dunia masuk kampus tak pernah punya mimpi untuk nyemplung ke sastra. Bahkan jurusan pertama di kampus sama sekali tak berhubungan dengan sastra. Malah bisa dibilang banting stir dari jurusan pertama masuk kampus.

Ssstt jangan tanya “kenapa?” ya. Karena biasanya akan dijawab “Mungkin sudah jalannya” dan berakhir mood yang kurang baik. Tapi itu dulu, kok.

Keinginan untuk menulis tetap masih ada. Terus dipupuk dan berharap bisa tumbuh subur hingga terlaksana menghasilkan karya. Meskipun tidak besar tapi setidaknya bisa sedikit bermanfaat.

Lalu bagaimana dengan editor buku? Mengapa bisa sampai di jalan ini (walaupun baru icip-icip)? Ya, karena pilihan sebelumnya. Pilihan-pilihan sebelumnya yang akhirnya menuntun hingga saat ini.

Walaupun bukan hal yang sangat-sangat direncanakan sebelumnya, tapi tidak buruk juga. Justru banyak hal yang bisa diambil dan sejauh ini merasa tidak bertentangan dengan yang ada pada diri.

Sependek pengalaman dalam dunia edit-mengedit buku, editor tidak hanya sekadar mengedit. Tetapi juga mencoba memahami dan menelaah pikiran si penulis. Tidak hanya asal mengedit, tapi juga mempertahankan “jati diri” si penulis dalam menyampaikan gagasan-gagasannya melalui tulisan. Selain mengolah dan mencacah tulisan, editor tetap harus menjaga khas si penulis. Mengedit itu bukan “mengubah” siapa penulisnya.

Jadi, aktivitas ini bukan hanya sekadar membaca, meneliti, dan mengolah tulisan tapi lebih dari itu. Menjadi seorang editor buku, artinya juga melatih kepekaan diri.

Terkadang bukan tidak sedih ketika harus menolak naskah yang sudah ada di tangan. Mengingat bagaimana sang penulis pasti sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menuliskan naskah tersebut. Namun, tetap belum bisa diterima untuk diterbitkan. Berharap sang penulis bisa lebih bersemangat lagi untuk terus berlatih dan mengevaluasi karyanya sendiri. Hingga suatu saat nanti menjadi karya yang bisa dibaca khalayak dan bermanfaat.

 

Yuyun WJ

Nggir Kali Progo

5 Juni 2023

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *