Orientasi atau Identitas?

Selama beberapa pekan saya rehat dari aktifitas menulis, niatnya mungkin rehat beberapa hari eh tapi ternyata keterusan. Padahal waktu luang tergolong masih banyak. Akhirnya, saya bertanya kepada diri sendiri, “kenapa ko gak menulis lagi?”. “Bukankah menulis banyak manfaatnya?.” Dan akhirnya saya pun bersemangat kembali setelah bertemu buku Atomic Habits. 

Dalam buku Atomic Habits karya James Clear, ada dua tipe orang yang melakukan sesuatu. Yang pertama, adalah orang yang melalukan sesuatu dan melihat hasil yang dicapainya, lalu biasanya selepas itu berhenti. Misal anda menulis dengan tujuan buku anda bisa terbit, setelah terbit anda tidak ada gairah lagi dan akhirnya berhenti menulis karena tujuannya sudah tercapai.

Berbeda dengan tipe yang kedua, adalah orang yang melakukan sesuatu karena ingin menjadikannya sebagai identitas. Anda menulis bukan karena buku anda akan terbit, tetapi anda menulis karena ingin identitas sebagai penulis melekat pada diri anda. Ketika buku anda terbit bahkan berkali-kali, tipe orang kedua ini tidak akan berhenti menulis. Karena tujuannya bukan hasil tapi proses dan identitas yang melekat pada dirinya.

Jadi, pada dasarnya James Clear ingin menyampaikan pesan tentang perubahan kebiasan kecil dalam diri kita setahap demi setahap termasuk kebiasaan yang membenuk identitas kita. Mungkin orang yang bertahan menjadi penulis bukan orang yang pernah terbit bukunya tapi orang yang membiasakan diri di kesehariannya untuk terus menulis.

Seperti halnya anda merapikan kamar atau tempat tidur kalau hanya agar tujuan kamar anda rapi, mungkin dalam waktu 2-3 hari kamar anda akan berantakan lagi seperti kapal pecah. Tapi kalau anda merapikan kamar tujuannya adalah menjadi orang yang rapi. Mungkin mempertahankan kerapihan kamar akan lebih mudah, karena tipe orang rapi biasanya ketika melihat sesuatu berantakan sedikit akan langsung di bereskan.

Nah anda mungkin juga tahu bagaimana mahasiswa semester akhir yang menyelesaikan skripsinya. Setelah selesai, apakah mereka akan tetap membuat karya tulis?. Tentu tidak, karena tujuannya telah tercapai yakni selesai dan lulus. Kita tentu tidak ingin seperti itu. Kalo kita menulis sebaiknya ya karena kita ingin menjadi penulis. Sehingga kita tidak berhenti ketika tujuan telah tercapai.

Sama halnya seorang muslim dia menjalankan perintah Allah swt seperti shalat lima waktu, zakat, puasa hingga haji bukan hanya karena ingin menggugurkan kewajiban tapi memang karena ingin menjadikan identitasnya menjadi seorang muslim yang bertaqwa. Walaupun identitas taqwa itu yang tahu hanya Allah, tapi mereka orang-orang mukmin melakukannya dengan sepenuh hati supaya identitas itu melekat dan mengantarkan pada akhir hayat yang baik.

Lagi-lagi kata seorang psikolog bahwa perubahan dalam diri seseorang kembali ke masing-masing pribadi, apakah ia mau berubah atau tidak. Mempertahankan aktifitas menulis memang bukan perkara mudah. Namun, saya sangat setuju dengan pendapat James Clear bahwa kita melakukan perubahan seharusnya bukan karena ingin mencapai hasil saja tapi karena ingin mewujudkan identitas yang kita inginkan. Sehingga ketika identitas itu terwujud, kita melakukannya seperti sudah menjadi bagian dari hidup kita. []

 

Akhmad Suhrowardi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *