Bagaimana Mengatasi Rindu

Dalam sekejap mata ini tetiba berkaca-kaca, basah oleh air mata. Hati terasa perih seperti tersayat, dan dada menjadi sesak. Bagaimana tidak, rindu ini tidak terbendung lagi. Berawal dari hari kemarin yang secara tidak terduga perjalanan takziah ke tempat rekan kerja yang jauh di antara pegunungan, jalan yang dilalui terasa tidak asing bagiku. Meskipun kondisinya sudah tidak sama lagi seperti dulu, tetapi ada bagian-bagian yang masih mengusik ingatanku. Untuk sampai ke tempat yang kami tuju kendaraan harus kami parkir di bawah, berjalan kaki beberapa ratus meter dengan tanjakan limit 40 derajat. Sampai di halaman rumah duka sambutan ramah khas pedesaan mengantarkan kami ke tempat duduk yang sudah di sediakan lengkap dengan berbagai hidangan, teh hangat disajikan. Rekan kerja yang berduka memberi sambutan “kami sudah mengikhlaskan” tidak ada air mata, yang tersisa adalah rasa bangga “mohon maaf untuk segala salah dan khilaf ibu saya, insyaAllah beliau meninggal dengan bahagia sudah mewariskan ilmu agama kepada kami anak-anaknya dan lingkungan sekitarnya”.

Saat kulihat di sebelah kanan rumah duka, sebentuk bangunan musholla lengkap dengan tempat wudhu dan pondokan sederhana. Yah, bangunan pondok yang membuka kunci ingatanku. Belasan tahun lalu, aku pernah merasakan suasana yang sama. Masa kecilku hidup di lingkungan pegunungan, bermain bebas ke seluruh penjuru kampung karena setiap orang dewasa adalah orang tua bagi setiap anak. Tidak pernah khawatir kelaparan, karena setiap rumah menawarkan makanan. Pagi saat harus berangkat sekolah menembus kabut berjalan kaki tanpa alas kaki bertudung kain sarung, entah sudah mandi atau hanya sekedar membasuh diri saat wudhu sebelum sholat subuh. Beramai-ramai berjajar di halaman sekolah menunggu guru datang dan berharap matahari segera muncul menghangatkan badan. Pulang sekolah menyusuri parit mencari ikan, dibakar untuk lauk makan.

Ingatan yang mengalir tanpa henti. Saat itu umurku belum sampai belasan, badan kecil tapi percayalah aku cukup terurus. Bagaimana tidak, segala kebutuhanku terpenuhi baik sandang, pangan dan papan tercukupi. Jangankan ketika aku sakit, kambingku beranak pun orang sekampung membuat selamatan nasi kuluban. Setiap sore anak-anak mengaji hafalan di musholla, jangan tanya kalau ada satu anak yang tidak tampak. Kami semua akan berbondong-bondong digiring Pak Kyai untuk mendatangi rumahnya. Oh iya, ritual sebelum mengaji adalah mandi di kolam sebelah musholla yang airnya tidak pernah surut, langsung mengalir dari mata air. Bakda Maghrib kami mengaji Al-Qur’an atau kitab sampai isya’ kemudian berbekal oncor kami pulang ke rumah. Saling mengantar dan anak yang paling besar akan memastikan anak di rumah paling ujung sampai dengan selamat. Selepas isya’ memang semua pintu rumah sudah tertutup, tidak ada orang yang berani keluar kampung. Menurut cerita simbah, ada harimau yang tengah malam mencari mangsa. Ini juga yang membuat kandang ternak penduduk kampung menyatu di dalam dapur.

“Mbak, monggo kulo aturi khormat dhahar. Selamatan seadanya” kata-kata rekan kerja menyadarkanku. Ketika masuk ke dalam rumah sederhana dengan meja yang di atasnya tertata nasi lengkap dengan sayur dan lauk-pauknya, penyajiannya dalam baskom-baskom besar. Iya, masih sama persis dengan puluhan tahun lalu. Orang kampung bahu-membahu, menyatu dan saling menghibur. Membawa apapun yang mereka punya untuk mencukupkan yang sedang kesusahan. Saling bertatap muka, bercerita, dan menguatkan satu dengan yang lain. Tapi yang membedakan sekarang ini para pelayat memegang erat benda kotak berukuran segenggaman tangan yang bercahaya. Membawanya kemanapun seperti belahan jiwa, membuka setiap detail laman di dalamnya sambil komat-kamit selayaknya merapal mantra. Fokus tatapannya tidak lagi pada orang yang berduka.

Sepulang dari rumah duka, sampai saat ini kerinduanku sungguh tidak teratasi. Rindu suasana puluhan tahun lalu, anak-anak bermain aman dengan teman sebayanya. Ikut mendengar, melihat dan merasakan suka-duka di lingkungan sekitarnya. Anak-anak yang dengan sendirinya terbentuk menjadi jiwa yang santun dan peduli dengan sesama.

Bagaimana mengatasi rindu ini?

Dewik Agustina F

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *