Hati-Hati Bertutur Kepada Pasangan

Saya teringat kisah Shahabiyah Nabi yang dikata-katai oleh suaminya dengan kalimat, “…seperti punggung Ibuku.” Kalimat tersebut semacam ungkapan talak pada zaman jahiliyah. Kalau di Indonesia mungkin saja bisa jadi ada padanannya juga. Saya kurang tahu.

Ketika emosi mulai masuk pada diri, kita harus tetap ingat dan mencoba belajar. Mengenai apa? Tentang mengendalikan kata atau kalimat yang keluar dari mulut kita kepada pasangan. Pasangan yang dimaksud tentu saja suami atau istri kita sendiri. Jangan sampai ucapan yang keluar karena naiknya emosi justru akan merusak hubungan rumah tangga untuk selamanya.

Seolah kecil, padahal damage-nya besar. Seolah kecil, padahal aslinya mengerikan. Persoalan muda-mudi kini ialah pandai berkata manis. Mungkin bukan persoalan, tapi kelebihan. Namun di balik kata manis itu, mereka bisa saja tidak sadar kalau sebenarnya “kata manis” tak jadi satu-satunya senjata romantis ketika mereka masuk ke bahtera rumah tangga. Ternyata ada sisi lain, bahkan sisi kebalikannya itu yang ternyata perlu dijaga dan perlu terus untuk disadari.

Tak perlu menuliskan barang satu contoh terkait persoalan kalimat atau kata yang terucap tapi akhirnya merusak atau menghancurkan bahtera yang telah lama dibangun. Seorang kawan pernah mengalaminya. Bayangkan jika itu terjadi pada diri kita.

Belajar mengendalikan emosi melalui akal atau pikiran yang jernih itu penting. Bukan hanya untuk persiapan menikah saja, tapi untuk kesuksesan keseluruhan dalam kehidupan pribadi. Memang hal ini akan berkaitan dengan kebiasaan dan karakter kita yang sudah menempel. Tapi bukan berarti tak bisa diubah. Semuanya tetap bisa diperbarui meski sedikit demi sedikit. Semuanya tetap bisa kita ubah meski usahanya harus bersimbah keringat.

Sekali lagi, tak hanya pada pasangan atau dalam hal pernikahan. Nyatanya, mengendalikan emosi dan mengenal diri sendiri adalah kunci kita untuk bisa menemukan hidup yang jauh lebih baik. Kalau kita tidak pernah tahu mengenai diri kita sendiri, bingung melangkah itu bisa jadi salah satu tandanya. Saya menulis ini bukan sedang mengompori para jomblo. Hanya karena saya ingat kisah Shahabiyah saja. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *