Tegukan yang Terus Bertambah

Sepanjang membaca buku mengenai tema sejarah peradaban Islam atau sejarah keilmuan Islam misalnya, saya kerap kali menemukan banyak informasi baru. Berbeda penulis, berbeda riset, berbeda fokus bahasan, dan apapun itu pada akhirnya informasi-informasi baru terkumpul. Saling melengkapi, saling menambah, atau ada pula yang anekdot.

Itu baru satu tema. Belum tema pembicaraan yang lain.

Bayangkan saja jika setiap hari kita membaca atau mengkaji tema-tema tertentu atau bahkan ragam topik. Tak perlu banyak-banyak–kecuali bagi mereka yang memang sedang fokus meneliti pada bidang keilmuan tertentu–yang penting konsisten dan kontinu, maka bisalah berandai-andai bahwa rekam jejak pengetahuan itu akan terus menyalakan pikiran dan akal manusia yang terus belajar.

Sampai di usia tuanya nanti, kegairahan akan pengetahuan, termasuk soal “idealisme” akan terus terjaga nyalanya. Bahkan berubah haluan pun bisa saja terjadi. Jangan remehkan soal ini. Kita mungkin dulu merasa aneh ketika salah satu buku Sirah Nabi Muhammad yang best seller itu ditulis oleh nama Martin Lings. Bukankah itu non-Muslim? Mungkin begitu pikir anak muda yang sedang naik ghirahnya belajar mendalami agama dan aktif dalam kegiatan syiar.

Tak disangka, mungkin Martin Lings adalah satu dari sekian banyak mualaf yang menarik dan hangat diperbincangkan. Bahkan tercatat bahwa dirinya nyemplung ke dalam dunia tasawuf. Istilahnya totalitas. Ia menemukan keindahan ajaran Islam. Rasa belajarnya yang terus menerus adalah kegigihan luar biasa yang perlu dicontoh.

Jika kita saat ini merasa malas sekali atau enggan membuka lembaran kertas buku yang dipunya, mungkin membaca kisah-kisah mereka—orang-orang yang namanya besar karena ilmu—bisa membuat semangat itu hadir kembali.

Sediakan saja berbagai topik buku. Saya yakin kalian tipe-tipe orang yang jarang sekali menghabiskannya dalam satu waktu. Pilihan beragam topik itu mungkin bisa mengurangi kepenatan. Tentu saja berbeda halnya jika kita sedang fokus pada tema atau topik tertentu yang mau tak mau harus terus menerus menatap hal yang sejenis.

Selamat membaca buku kembali setelah beberapa hari menikmati tradisi bersapa ria dan bersilaturahim dengan sanak saudara dan tetangga. “Kemenangan” harus tetap kita jaga. []

Viki Adi N

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *