Kehidupan di muka bumi bersifat sementara (fana’). Kehidupan di muka bumi tidak kekal dan tidak abadi. Semua yang ada di muka bumi ini akan mengalami kebinasaan dan kehancuran tanpa terkecuali. Semua yang kita miliki di dunia ini akan diambil kembali oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sejatinya, kehidupan dan semua isi didalamnya adalah milik Allah Subhanahu wata’ala. Kita hanya diberikan kesempatan untuk berjalan di atas kehidupan dunia yang sementara ini. Kita akan berjalan menelusuri kehidupan dunia berdasarkan fase perjalanan masing-masing.
Semua orang mungkin sedang berada dalam fase perjalanannya masing-masing, seperti fase bermain di taman kanak-kanak, fase belajar di sekolah dasar, fase belajar di sekolah menengah, fase menggapai cita-cita di bangku kuliah, fase membangun mimpi di tempat kerja, fase pra nikah, fase mewujudkan keharmonisan setelah menikah, dan lain-lain. Semua orang yang melalui fase perjalanan ini tergantung pada kesanggupannya masing-masing. Ada orang yang tidak merasakan fase belajar di sekolah, ada orang yang tidak mampu ke fase menggapai cita-cita dibangku kuliah, ada orang tidak melalui fase pra nikah, dan lain sebagainya. Ada beberapa orang yang memiliki banyak fase perjalanannya, sebaliknya ada beberapa orang yang hanya memiliki tiga atau empat fase perlajanan saja. Jadi, setiap orang memiliki fase perjalanan yang berbeda-beda.
Fase perjalanan yang dilalui bukan tergantung pada jumlahnya ataupun durasi waktunya, akan tetapi tergantung pada kesanggupan menapakinya. Kesulitan dan kemudahan melewati fase perjalanan tergantung pada tingkat keimanan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. As-syahid Sayyid Quthb rahimahullah menyatakan bahwa seorang insan tidak bisa mencapai kesempurnaan dari hakikat keimanan hingga ia maju untuk mendapatkan pengalaman, ujian, dan cobaan; dan hingga ia mengetahui hakikat kekuatannya dan hakikat tujuannya.
Allah Subhanahu wata’ala selalu menghadirkan pengalaman, ujian, dan cobaan di setiap fase perjalanan untuk mengetahui seberapa besar tingkat keimanan setiap insan. Allah Subhanahu wata’ala memberikan pengalaman, ujian, dan cobaan kepada setiap insan untuk mengambarkan hikmah sunnahtullah kehidupan yang sebenarnya. Allah Subhanahu wata’ala ingin memperlihatkan betapa besar dan dahsyat penciptaan-Nya di muka bumi. Sunnahtullah merupakan ketetapan Allah Subhanahu wata’ala untuk meletakkan hukum-hukum-Nya di atas segala ciptaan, baik di langit maupun di bumi. Sunnahtullah sebagai hukum atau ketetapan Allah Subhanahu wata’ala tentang alam semesta beserta isinya.
Sunnahtullah kehidupan adalah sebuah keniscayaan hidup yang harus dilalui oleh setiap insan dengan berjalan menapaki fase perjalanan di muka bumi. Sunnahtullah tidak bisa dihindari oleh setiap insan selama melalui fase-fase perjalanan di muka bumi. Tidak ada manusia yang hanya merasakan kesenangan saja selama hidupnya di muka bumi, sebaliknya tidak ada manusia yang hanya merasakan kesedihan saja selama hidupnya di muka bumi. Semua manusia yang hidup pasti merasakan keduanya, kesenangan maupun kesedihan tanpa terkecuali.
Setiap orang sudah diberikan porsi kesenangan dan kesediahannya masing-masing oleh Allah Subhanahu wata’ala. Setiap orang pasti dihadapkan pada hidup dan mati. Ada suka dan ada duka. Ada letih dan ada semangat. Ada kalah dan ada menang. Ada pemenang dan ada pecundang. Semua itu merupakan ketetapan Allah Subhanahu wata’ala bagi manusia sebagai fitrah yang berlaku di muka bumi. Ibarat mobil semua bagian-bagiannya harus saling melengkapi untuk bisa berjalan di jalanan. Ibarat lukisan, salah satu keindahannya terletak pada warna lukisan yang menonjol. Dunia menjadi indah ketika tidak didominasi oleh satu warna saja. Dunia ini bagaikan pelangi yang keindahannya terletak pada ragam warnanya, menjadikan mata tidak bosan memandang. Seperti itulah germerlap warna dunia.
Sejatinya, Allah Subhanahu wata’ala selalu mendidik hamba-hamba-Nya dengan skenario yang telah ditetapkan. Allah Subhanahu wata’ala menjadikan manusia kian kokoh teruji dalam berbagai tempaan hidup. Pokoknya, manusia merupakan makhluk yang paling sempurna karena diberikan sepenggal nikmat oleh Allah Subhanahu wata’ala berupa akal. Namun, tetap saja dihadapan Allah Subhanahu wata’ala, manusia adalah makhluk yang lemah. Dengan berpedoman bahwa Allah Subhanahu wata’ala sebagai perancang skenario kehidupan yang fana’ ini, maka orang yang beriman akan senantiasa tegar dalam setiap urusan. Segala persoalan hidup yang dihadapi dilihat sebagai skenario dari Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, orang yang beriman tentu selalu mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala menetapkan kemudahan dan kesulitan, kesenangan dan kesedihan, serta kemenangan dan kekalahan dalam fase-fase perjalanan manusia di muka bumi sebagai bagian dari kuasa-Nya yang mutlak.
Suratman S. Naim
