Agaknya baru kali ini saya sempat untuk menuliskan tentang ini. Semenjak kisah Firaun, Qarun, dan Haman naik kembali di jagad maya, saya ingin segera menuliskannya. Namun sepertinya pekerjaan dapur redaksi telah menyita keinginan tersebut. Mungkin orang mengatakan dengan bebasnya bahwa pemerintahan masa kini lemah, kebijakan berubah-ubah, dan seterusnya. Mungkin sebagiannya memang demikian. Tapi ketahuilah, bahwa pemerintahan Pak Jokowi beserta jajarannya itu adalah pemerintahan yang kuat.
Kok bisa begitu? Lihat saja, sekelas RUU borongan atau yang biasa disebut RUU Ciptaker dan paket-paketnya yang ditolak oleh masyarakat, didemo di mana-mana, tetap diketok palu. Bukankah itu menandakan pemerintahan yang kuat? Bukti lainnya lagi adalah kita bisa melihat angka koalisi dan oposisi di Senayan. Bukankah oposisi saat ini hanya tersisa dua biji? Yang dulu oposisi, satu per satu masuk ke koalisi.
Selanjutnya, semenjak kita memasuki era digital, pada faktanya siapa yang mencoba “mengkritik” kekuasaan dengan “ganas” akan diserang oleh apa yang biasa disebut sebagai buzzer. Konten-konten yang mereka ciptakan seperti memberi aksentuasi pada warganet untuk ikut terlibat “berperang”. Ini juga sebenarnya kekuatan dahsyat yang dimiliki. Namun kekuatan tersebut justru jika kita mau jujur dan lebih mencerna adalah sesuatu yang bisa merusak tatanan demokrasi. Itulah mengapa, tepat sekali jika para buzzer disebut sebagai “pemecah belah” bangsa.
Sekaliber Mbah Nun saja, langsung disikat. Setelah memberi klarifikasi, komentar pedas faktanya tetap terus berjalan, tiada henti, dan terus menerus. Apalagi sekelas aktivis atau gerakan mahasiswa? Yo ndak tau, kok tanya saya!
Sayang sekali, belum ada yang menyebut pemerintahan Pak Jokowi mirip dengan Umar bin Abdul Aziz. Bersyukur, sudah ada yang menyebut mirip dengan kepemimpinan atau pemerintahan Umar bin al-Khattab (kita berdoa semoga begitu). Seseorang yang dijadikan panutan oleh Umar bin Abdul Aziz selama menjalani kepemimpinan sebagai orang nomor satu di dunia Islam pada masanya, yang sekaligus sama-sama kita kenal sebagai datuknya. Umar bin Abdul Aziz adalah keturunan Umar bin al-Khattab. “Ramalan-ramalan” di masa itu juga telah populer bahwa akan ada garis keturunan khalifah kedua itu yang akan menjadi pemimpin dan menaungi bumi dengan keadilan dan kemakmuran.
Itulah mengapa, ketika Umar bin Abdul Aziz naik, keluarga Bani Umayyah dan Bani Marwan mengutuk dan menyesal karena telah mendekatkannya pada kekuasaan sehingga keadilan bisa tersebar dan kedua Bani tersebut diperlakukan sama dengan golongan lain termasuk lawan politiknya, yakni Bani Hasyim.
Di masa Umar bin Abdul Aziz, semua orang dibebaskan untuk berbicara, dibebaskan untuk melaporkan segala tindak kezaliman penguasa atau pejabat di daerahnya, dan semacamnya. Setiap orang fakir, miskin, terzalimi, dan orang-orang yang memiliki keperluan berkaitan dengan hajat akan didahulukan untuk memasuki istana. Penyair, keluarga kerajaan, dan orang-orang yang diistimewakan oleh para pemimpin di masa sebelumnya justru dibiarkan, diacuhkan, kecuali memang yang memiliki kepentingan seperti rakyat kebanyakan yang pernah terzalimi.
Bahkan, Umar bin Abdul Aziz selalu menyurati para ulama untuk memberikan nasehat dan kritik kepadanya. Ia juga selalu mengundang mereka di majelis khalifah untuk dimintai pertimbangan setiap kebijakan. Sesuatu yang aneh dan asing pada masa kekuasaan Bani Umayyah maupun Bani Marwan. Sampai-sampai ketika amanah terasa kian berat dan ia “pusing” memikirkan terkait persoalan putra mahkota (kala itu dipertanyakan oleh golongan Khawarij), ia mengundang seorang zuhud agar mendoakannya segera bisa bertemu dengan Sang Pencipta. Cita-cita yang ternyata memang segera diraihnya setelah kekuasaan tak bisa memalingkannya.
Kebebasan yang diberikan Umar telah mengubah segalanya di dunia Islam, kemakmuran menyelimuti negeri. Orang-orang yang selama ini ditindas dan dirampas haknya, segera saja mendapatkan keadilan.
Instrumen kebebasan berbicara tanpa ada ketakutan ternyata menjadi salah satu hal yang memicu kemakmuran di daulah Islam kala itu. Sesuatu yang mungkin di hari ini terasa begitu syulit dan kita sama-sama tahu resikonya. Sekaliber Mbah Nun yang dari dulu, setau saya, selalu blak-blakan dalam mengkritik penguasa, bisa benar-benar skak mat digempur oleh pasukan jagad maya. Dahsyat sekali memang.
Kita doakan, semoga pemerintahan Pak Jokowi beserta jajarannya bisa meneladani kepemimpinan dan pemerintahan ala Umar bin Abdul Aziz. Sehingga detik-detik berakhirnya masa kekuasaan akan meninggalkan legasi yang baik di mata rakyat. []
Viki Adi N
