“Ustadz, kenapa akhir-akhir ini saya merasa banyak sekali perubahan pada anak-anak santri kita? Baik akhlak, adab dan lain sebagainya. Sungguh sangat berbeda dengan kondisi anak-anak beberapa tahun lalu ketika awal-awal pondok ini berdiri.” Kurang lebih seperti itu kegelisahan dan pertanyaan besar salah seorang ustadzah di salah satu pondok pesantren ketika menyampaikan kegundahan hatinya pada pembicara pembinaan pegawai saat itu.
Ustadz Sidiq selaku pembicara sedikit menganggukkan kepala memperlihatkan kepahaman beliau dengan apa yang dirasakan oleh sang penanya. Beliau pun mencoba menjelaskan dan menguraikan beberapa hal penting yang memang harus menjadi perhatian bersama terhadap apa yang terjadi pada santri dan pondok saat ini. “Ustadzah, pernah melihat gelas yang dituangi air dari teko? Kira-kira apabila teko berisi teh dituangkan kedalam gelas, apa isi gelas tersebut? Kalau isi tekonya air putih, kira-kira isi gelasnya susu atau air putih?” Beliau sedikit memberikan pertanyaan kepada para hadirin yang hadir.
Lalu beliau melanjutkan, “Ustadz Ustadzah semuanya, anak-anak kita itu ibarat gelas-gelas yang siap di isi dengan air, sedangkan kita para pengajar mereka seperti halnya teko yang membawa air didalamnya untuk kita tuangkan pada gelas tersebut. Jadi jikalau anak-anak didik kita ada sesuatu yang menurut kita salah maka yang pertama kali harus kita lihat adalah diri kita sendiri. Jangan-jangan dulu itu kita saat mengajar di awal-awal berdirinya pondok, kita sangat ikhlas, bahkan gaji kecil pun kita rela lembur-lembur di sekolah. Tapi sekarang pas gaji kita sudah naik, sudah layak, tapi kerja kita, niat kita malah yang jadi tidak layak. Atau jangan-jangan dulu awal-awal pondok berdiri, ibadah-ibadah kita, doa kita untuk anak-anak itu tidak pernah putus, tapi sekarang ketika pondok makin besar kita malah lalai semuanya.”
Kesalahan yang terjadi pada anak didik, tidak sepenuhnya kesalahan dari anak. Bisa jadi sebagian besarnya adalah kesalahan dari kita sebagai pendidik. Anak SD yang melihat gurunya makan sambil berdiri, tidak menutup kemungkinan ia akan mengikuti sang guru dengan makan sambil berdiri. Ibarat pepatah, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” atau mungkin sekarang sudah berubah pepatahnya “guru kencing berdiri, murid kencing naik metro mini” jadi makin parah. Anak akan meniru tingkah laku dari gurunya baik itu benar maupun salah. Alasannya mudah, mereka akan bilang, “Lha itu, pak guru/bu guru saja melakukan hal tersebut.” Maka sebagai pendidik kita selayaknya harus menginstrospeksi diri kita setiap waktu, agar tak berbuat maksiat, dosa atau sesuatu yang bisa menimbulkan efek negatif bagi anak didik kita.
Mungkin akan ada yang menyangkal, “saya kan melakukan maksiat/dosa/kesalahan yang sangat kecil dan tidak pernah diketahui oleh anak didik saya”. Iya benar, saya tahu, tapi… pernahkan kita mendengar bahwasanya kepakan sayap kupu-kupu di Brazil bisa menimbulkan angin tornado di Texas beberapa bulan kemudian?. Yup, Butterfly Effect. Barangkali apa yang kita anggap kecil itu seperti halnya teori efek kupu-kupu akan menyebabkan perubahan akhlak, perubahan pada diri anak didik kita yang begitu besar dikemudian hari. Atau sekurang-kurangnya pasti akan menimbulkan berkurangnya keberkahan ilmu yang diajarkan oleh pendidik kepada anak didiknya apabila kita selaku pendidik tidak menjaga diri kita dari kemaksiatan dan dosa.
Maka sebagai penutup, cobalah kita renungkan kembali ungkapan terkenal dari K.H. Hasan Abdullah Sahal yang disampaikan pada Pengarahan dan Pembagian Tugas Ujian Tulis Pertengahan Tahun 1434-1435. Beliau menyampaikan, “At Thariqah ahammu minal maddah, wa al mudarris ahammu minath thariqah, wa ruhul mudarris ahammu minal mudarris nafsihi”. Methode lebih penting dari pada materi, dan guru lebih penting dari pada methode, dan ruh/jiwa seorang guru lebih penting dari guru itu sendiri.
AW Adi
