Matematika atau Mati-matian?

Tulisan ini berawal dari postingan seorang teman. Seorang guru matematika yang merasa cukup kewalahan ketika mengajari anaknya matematika dasar (pelajaran anak SD). Terlebih si anak termasuk tipikal anak yang cuek dan pendiam, cukup sulit untuk mengetahui sejauh mana pemahaman anak. Dalam kasus ini memang cukup kontradiktif, seorang guru matematika yang kesulitan untuk mengajarkan matematika kepada anaknya sendiri. Lalu apa yang salah dalam hal ini? Pelajaran matematika atau tingkat pemahaman (kecerdasan) anak?

Baiklah, kita mulai dari pelajaran matematika. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, menurut KBBI matematika adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. Matematika pasti berkaitan dengan pengolahan angka atau bilangan, hal ini yang membuat sebagian besar orang menganggap bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit. Meskipun demikian setiap orang tidak akan lepas dari matematika, karena hampir semua aspek dalam kehidupan sehari-hari akan berkaitan dengan matematika. Jadi wajar jika tidak bisa instan dalam mempelajari matematika.

Kembali menilik kasus yang sebelumnya, seorang guru matematika yang kesulitan mengajarkan matematika kepada anaknya sendiri. Untuk orang awam tentunya hal ini menjadi sangat aneh, akan ada pemikiran “Bagaimana guru tersebut dapat mengajari anak yang lain di sekolah, sedangkan mengajari anak sendiri saja tidak bisa”. Hal ini sebenarnya tidak dapat digeneralisasikan demikian, ada banyak faktor yang berperan dalam hal ini. Diantaranya yaitu faktor internal dari anak tersebut, faktor dari orang tua dan faktor dari lingkungan.

Yang pertama, faktor internal anak merujuk pada usia, tingkat kecerdasan, gaya belajar dan kondisi emosi. Mengutip dari jurnal psikologi Universitas Diponegoro Vo. 3 No. 2, Desember 2006 yang menyatakan bahwa *Setiap Anak Cerdas*, sebuah kepastian bahwa Allah SWT tidaklah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Berdasarkan teori Gardner, ada delapan jenis kecerdasan yang ada pada setiap anak: _kecerdasan linguistik, kecerdasan logis matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan naturalis, kecerdasan antarpribadi, dan kecerdasan intra pribadi_. Selain delapan kecerdasan menurut Gardner tersebut ada satu kecerdasan yang dijumpai pada anak menurut Danah Zohar dan Ian Marshall (2000) yaitu _kecerdasan spiritual_. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa kecerdasan logis matematis hanyalah satu di antara sekian banyak kecerdasan anak yang dapat digali dan dikembangkan dari seorang anak. Dengan mempertimbangkan gaya belajar dan kondisi emosi anak, maka sudah selayaknya setiap anak memiliki hak untuk bertumbuh menjadi orang yang hebat.

Yang kedua, faktor dari orang tua. Orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Bahkan dari sejak dalam kandungan, janin sudah menyerap berbagai pembelajaran dari ibu yang mengandungnya. Anak terlahir selayaknya kertas putih, orang tua adalah tinta pertama yang akan menoreh dunia dan membentuk karakter anak. Akan tetapi dalam prosesnya terkadang orang tua lupa bahwa anak juga memiliki bakatnya masing-masing, orang tua terkadang lupa bahwa standar mereka sebagai orang dewasa tidak bisa disamakan dengan kemampuan anak-anak. Anak akan bertumbuh sesuai usianya, dan perlu ditekankan bahwa anak-anak dalam rentang usia yang sama tidak selalu menunjukkan perkembangan kecerdasan yang sama persis. Kita hanya dapat merata-rata tumbuh kembang anak seperti halnya yang tertulis dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) yang selalu dibawa saat Posyandu. Jika dalam kasus di awal pembahasan ini guru matematika yang kesulitan mengajarkan matematika kepada anaknya, secara sederhana coba kita flashback lagi: apakah dulu di usia anak tersebut kita sudah benar-benar lancar menghitung matematika dasar? Jika jawabannya Tidak, berarti hanya perlu waktu bagi anak tersebut untuk belajar, memahami dan kemudian menjadi mahir. Akan tetapi jika jawabannya Iya, maka orang tua tidak perlu panik atau emosi karena sesungguhnya anak tersebut hanya perlu sedikit penanganan khusus.

Yang ketiga, faktor dari lingkungan. Cukup panjang ketika harus membahas faktor lingkungan ini. Namun intinya seperti halnya zat cair yang akan menempati ruang sesuai bentuk wadahnya, begitu juga anak yang tumbuh kembangnya akan terbentuk sesuai dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Lingkungan yang baik akan membentuk anak menjadi pribadi yang baik pula.

Simpulannya, orang tua sebagai orang dewasa harus mampu menempatkan potensi anak sesuai dengan usia dan tumbuh kembangnya. Menjadi orang tua yang senantiasa mendukung potensi anak akan lebih bermakna untuk kesuksesannya di masa yang akan datang. Tentunya do’a orang tua menjadi kunci untuk membuka jalan kebaikan bagi anak. Insya Allah

Dewik Agustina Fatmawati

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *