Nasehat itu baik, tetapi kadang bisa jadi kurang pas. Nasehat bisa jadi benar, tetapi ada kalanya jadi kurang tepat. Seperti orang Jawa mengatakan, “bener nanging ora pener.” (Bisa diartikan: benar tapi kurang tepat, kurang pas). Karena kurang tepat, akhirnya nasehat tersebut mental. Kalau mental masih bagus, coba bayangkan jika nasehat itu justru membuatnya terpuruk lebih dalam.
Kita ambil contoh kasus pertama. Ada seorang yang terkena musibah. Usahanya bangkrut dan meninggalkan hutang. Ia menumpahkan segala keluh kesahnya di media sosial misalnya di status Whatsapp. Lalu kita berniat baik untuk menasehatinya.
“Sabar, kamu pasti bisa menghadapinya.”
“Antum harus sabar. Ini ujian.”
Kalimat seperti ini sering kali terucap begitu saja. Padahal orang tadi mungkin sedang butuh uang untuk membayar hutang, bukan butuh pesan sabar. Bisa dipahami kan maksudnya?
Nasehat di atas baik dan benar, tetapi kurang pas. Lalu bagaimana nasehat yang pas? Kita ubah sedikit kalimat di atas.
“Sabar, kamu pasti bisa menghadapinya. Posisi sekarang ada di mana? Saya ada sedikit rezeki, semoga bisa meringankan.”
Nah, ini nasehat solutif. Lalu, bagaimana jika kita tidak ada rezeki? Kita ubah kalimatnya begini.
“Semangat, kamu pasti bisa menghadapinya Insya Allah. Mohon maaf, kebetulan ini saya juga belum ada keluangan rezeki jadi belum bisa membantu banyak.”
Sampai sini, kita pasti lebih paham. Memang adakalanya begitu. Adakalanya yang dibutuhkan itu sesuatu yang bersifat solutip. Bayangkan, pasti orang tersebut kepalanya sedang pening memikirkan bagaimana bisa membayar hutang dan tagihan hutang masuk dari mana-mana. Mungkin, aset siap-siap di sita. Eh tiba-tiba kita memberi pesan: “Sabar!” Coba pikirkan baik-baik, bagaimana perasaannya? Kita perlu tahu bahwa kondisi orang itu berbeda-beda. Jangan samakan dengan diri kita.
Selanjutnya, kita ambil contoh kasus kedua. Ini berkaitan dengan membandingkan. Ada seseorang yang merasa dirinya inferior. Ia merasa tak mampu melakukan apa-apa. Tak bisa menghasilkan apa-apa. Ia merasa dirinya tak penting dalam segala hal. Lalu, ia menuliskan keluh kesah di media sosial, misal di status whatsapp. Lalu kalian mencoba menghiburnya dengan memberi nasehat.
“Sabar, kamu pasti bisa. Setiap orang pasti punya kemampuan. Lihatlah Si Fulan, dia bisa kok melewati (bla…bla.. bla…).”
Mungkin bagi kita,kalimat tersebut biasa saja. Nasehatnya juga baik. Tapi dalam kondisi tertentu, orang merasa begitu sakit jika dibandingkan dengan orang lain. Alangkah baiknya, jika kalimat membandingkan dari nasehat tersebut dihapus saja.
Dua kasus tersebut memang spesifik. Banyak contoh kasus yang lain juga. Tapi hampir mirip-mirip. Semua orang yang terkena musibah memang solusi (spirit) benarnya itu sabar. Dan memang agama kita telah memberikan pesan tersebut. Namun, kondisi jiwa manusia yang berbeda-beda harus membuat kita mawas diri agar tak sembarang memberi nasehat. Tak semua orang itu seperti kita. Dan, saya yakin mereka juga sudah tahu mengenai keutamaan sabar dan bagaimana al-Qur’an telah berpesan indah mengenainya.
Kedekatan kita kepada yang akan diberi nasehat juga mempengaruhi. Begitu pula (kondisi) psikologis sampai detail persoalan yang ada. Kalau kita tak banyak tahu seluk beluknya, alangkah baiknya tak terlalu ikut berucap apalagi memberi nasehat disertai saran-saran seolah-olah seperti solusi paket komplit.
Kalau kalian punya contoh kasus-kasus yang lain, silakan buat list dan tuliskan. Siapa tahu bermanfaat jika dibaca banyak orang. []
Viki Adi N
