Sepekan atau dua pekan terakhir ini, saya mencoba menyusun ulang buku “Membaca itu Menulis” karya Pak Eko Novianto. Dulu, buku ini berbentuk e-book dan dijual dengan “bonus” project nulis bersama jauh sebelum BNB ada. Di akhir tahun ini, yakni menuju BNB #batch 4, kami sepakat untuk menerbitkan ulang dalam bentuk cetak sekaligus rencananya akan dibedah sebagai opening BNB di bulan terakhir tahun 2022.
Menyusun ulang tentu saja membuat saya secara otomatis membaca lagi e-book tersebut. Ada beberapa kalimat yang “menggelikan”, padahal saya sudah pernah membacanya dulu.
Misalnya saja ada kalimat bahwa penulis itu adalah orang yang mudah untuk menghilang. Dipikir-pikir memang ada benarnya. Misalnya kalau kita biasa menulis dan membagikannya hampir setiap hari dan tetiba dalam jangka waktu agak lama berhenti, biasanya kawan kita akan bertanya, “Kok lama nda nulis lagi?”
Kalimat menggelikan itu ternyata agak benar. Dan setelah berhenti, akhirnya kita menjadi termotivasi lagi untuk menulis.
Kita coba ke kalimat menggelikan lainnya. Misalnya lagi, ada kalimat mengenai menulis itu satu hal dan menulis buku adalah hal yang lain lagi. Sebenarnya, saya telah mengulas soal ini di buku Jalan Berliku, tapi membaca ulang kalimat itu―ditambah dengan ilustrasi menarik―rasa-rasanya telah memberi motivasi kembali untuk terus menulis meski bukan menulis buku. Dan memang begitu adanya, hampir semua buku yang pernah saya tulis adalah kumpulan esai yang sedari awal sesungguhnya tak diniatkan jadi buku khususnya di beberapa karya terakhir.
Makanya, kalau ada yang bertanya, “Berarti kalau mau menjadikan buku tinggal dikumpulkan aja?” Saya jawab,”Betul.”
Tinggal dikumpulkan, disunting ulang, disesuaikan sana-sini dan jika perlu menyusun beberapa tulisan baru yang bisa saling menghubungkan gagasan-gagasan yang dikumpulkan dari esai yang bertebaran.
Masih banyak kalimat yang menggelikan, tapi saya coba sebutkan satu lagi di sini. Ini berkaitan dengan penggung. Penerbit itu semacam panggung bagi penulis. Nah, kira-kira seperti itu kalimatnya. Pembaca memang jadi bebas menafsirkan. Saya coba menafsirkan dalam konteks dunia penerbitan, salah satunya adalah berkaitan dengan masih banyaknya penerbit Islam yang terlalu “mengagungkan” tokoh tertentu untuk “dijual” dan lupa untuk mengkader penulis-penulis muda baru.
Itulah mengapa, saya berpikir untuk terus bisa mengkader penulis baru dan tak harus berpaku pada satu dua penulis besar saja. Memang, ini tantangan besar khususnya berkaitan dengan hidup matinya sebuah penerbit. Dan, itulah menariknya. Pengalaman mengenai terlalu “membesarkan” satu dua penulis di penerbit justru akan mematikan banyak potensi penulis lain dan generasi pelanjutnya, termasuk kevakuman jika sang penulis telah pergi dan berlalu lalang. Saya telah memperhatikan soal ini di suatu penerbit besar Islam di Jogja. Saya menganalisisnya dan benar saja, semua itu terjadi. Saya tak perlu membisikkan siapa penerbit tersebut.
Itulah beberapa kalimat menggelikan yang bisa saya tulis di sini. Sisanya silakan bisa membacanya sendiri. Selamat menulis. []
Viki Adi N
