Kemarin adalah hari kesehatan mental dunia. Tetapi Indonesia, khususnya Jogja justru dikagetkan dengan berita mengenaskan: bunuh dirinya seorang anak muda (lompat) dari lantai 11 dua hari tepat sebelumnya. Hari peringatan telah berubah menjadi hari duka.
Di tas mahasiswa baru kampus Gajah Mada tersebut, ditemukan semacam surat keterangan dari psikolog. Ini menandakan memang sepertinya sedang ada persoalan. Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh pihak keluarga korban yang pada pagi hari telah mencarinya tetapi tidak bertemu. Ada firasat tidak enak katanya. Dan benar saja, di sore menjelang petang, kabar duka mengenai bunuh diri tersebut datang.
Jika mendengar berita duka orang bunuh diri, saya begitu sedih. Entah kenapa, tapi memang begitu. Kejadian itu bukan yang pertama, ketika saya dan kawan-kawan masih tinggal di Omah Literasi―Gaza Library Publishing pernah bermarkas di sana selama dua tahun―kejadian bunuh diri juga terjadi di daerah Karanggayam (tak terlalu jauh dari daerah UNY, termasuk hotel yang kemarin jadi tempat lompat mahasiswa UGM). Saya agak lupa penyebabnya, kalau tak salah antara skripsi atau diputus pacar. Bedanya, ini gantung diri. Selain kasus-kasus tersebut, sebelumnya juga pernah ada lagi. Hanya saja, ingatan saya samar-samar. Saya benar-benar merasa kasihan. Jalan keluar pasti ada. Pintunya pasti ada. Mengapa harus mengakhiri hidup? Pikir saya begitu.
Meski seperti itu, saya tak menganggap remeh soal depresi. Saya tahu persis bagaimana rasanya orang depresi. Bagaimana rasanya orang tertekan. Saya memang belum pernah mengalaminya. Tapi saya pernah berinteraksi dengan orang-orang yang sedang mengalaminya. Dulu, saya termasuk orang yang menganggap hal semacam ini biasa dan cukup dengan alasan: jika agama kita kuat, depresi tak akan terjadi, bunuh diri juga tak akan pernah terpikirkan. Namun semenjak pernah bertemu dengan orang yang depresi, saya tahu dan paham kalau persoalannya tak sesederhana itu. Kalimat alasan tersebut memang benar, tetapi kadang jadi kurang tepat dalam kondisi-kondisi tertentu. Orang Jawa menyebut bener tapi ora pener. Ada banyak faktor yang melatari terjadinya dan tak sesimpel yang kita bayangkan.
Saya pernah bertemu dengan orang dengan kondisi mental sedemikian rupa sampai pada satu titik dia mengatakan: Tuhan itu tidak ada, buat apa shalat, buat apa hidup. Rasa frustrasi di dalam dirinya seperti telah mematikan nalar sehatnya. Ia mempertanyakan Tuhan dan kehidupan, bahkan menggugatnya. Adik tingkat di kampus membawa seorang kawan ini untuk ngobrol dengan saya secara pribadi, face to face. Kalau kata adik kampus saya, dia orang stres, penginnya mati, dan ngoceh-ngoceh nggak jelas.
Awalnya, saya mengira ini orang yang hanya kebanyakan makan buku kiri atau tertanam pikiran-pikiran kiri atau bahkan komunis. Tetapi dugaan saya salah. Justru setelah saya mendengar obrolannya―meski awalnya ia tidak mau terbuka―akhirnya saya tahu. Di situ saya benar-benar mendengarkan. Mencoba memancingnya dengan kalimat atau kata-kata tertentu, sampai ia mau bercerita semua perihal kehidupannya. Ternyata tak disangka kalau akar persoalan yang ia alami adalah masalah keluarga, yakni kurang perhatiannya kedua orangtua kepadanya. Secara fisik memang orang tua memberikan banyak soal kebutuhan dan apa yang ia pinta, tetapi banyak kebutuhan selain fisik yang tak ia dapatkan.
Coba perhatikan, bagi sebagian orang, bukankah ini soal yang biasa dan sederhana? Tapi lihatlah, pada faktanya, gara-gara soal yang dianggap remeh itu, seorang anak bisa depresi, frustrasi, tertekan, tak percaya pada Tuhan, bahkan sampai ingin menyudahi hidupnya. Bukankah itu paket komplit?
Begitulah faktanya, bagi sebagian kita dianggap remeh temeh, namun pada sebagian yang lain itu adalah persoalan yang serius. Itulah mengapa, semenjak saya pernah bertemu dengan orang yang depresi, frustrasi, dan semacamnya, saya menjadi bisa lebih mengerti dan respek. Saya bisa mengerti bagaimana yang mereka rasakan. Saya pernah salah dalam menilai soal yang begituan. Saya pernah menjadi orang yang telah dan terlalu banyak menggurui tanpa pernah melihat latar orang yang sedang bermasalah.
Karena bukan psikolog, tentu saja saya tidak tahu solusi praktis jika ada orang ingin mengakhiri hidupnya. Tapi pengalaman saya adalah kita harus respek pada mereka. Mendengarkan mereka bercerita tanpa banyak menggurui. Mengajak mereka ngobrol yang mana mereka adalah pembicara utamanya. Itulah mengapa, setiap ada berita duka mengenai orang yang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri saya turut bersedih. Kita bisa bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana jika kita ada di posisi mereka?” Semoga kita selalu bisa mengukur diri dan terhindar dari berbagai pikiran jahat. []
Viki Adi N
