“Memulai dari nol.” Agak aneh sebenarnya kalimat ini. Namun, hemat saya pribadi ini adalah cara terampuh ketika gagal dan mengalami jalan buntu di suatu persoalan yang tengah dihadapi. Ada yang menyebut dengan istilah move on. Bolehlah, tak apa juga.
Kita kerapkali berpikir tertutup seolah tak ada jalan lain dikala persoalan terasa kian berat. Padahal, bisa jadi jalan-jalan lain ada di samping, ada di sekitar. Ada pintu-pintu lain yang terbuka. Di waktu pandemi kemarin, banyak karyawan yang kena PHK. Banyak yang remuk, namun banyak juga yang bertahan. Bertahan di sini ialah dengan memulai semuanya dari nol. Benar-benar dari nol. Ada yang beralih membuka usaha. Ada yang beralih menjadi driver online. Dan apapun yang bisa dilakukan demi menafkahi keluarganya.
Ketika buntu menyelesaikan tugas akhir, skripsi, atau semacamnya. Kita berpikir tak ada lagi jalan. Satu-satunya cara: tinggalkan. Padahal, kita belum mencoba jalan-jalan dan pintu-pintu yang lain. Kemungkinan-kemungkinan yang lain bisa jadi ada. Ketika dililit hutang, ada jalan pikiran sebagian orang berhutang lagi kepada yang lain untuk menutup hutang sebelumnya. Akhirnya persoalan tidak kunjung usai. Dia tidak mencoba melihat pintu yang lain dan bagaimana berpikir jernih untuk menyelesaikannya.
Kunci “memulai dari nol” adalah pikiran jernih dan terbuka, kemauan yang kuat, serta tidak malu/gengsi. Nah, yang terakhir ini yang biasanya jadi soal paling besar, khususnya di zaman yang serba penuh citra begini. Membawa keranjang dagangan dan berkeliling seolah-olah memalukan. Padahal, justru itu lebih mulia dan berwibawa dibanding duduk di depan laptop sembari merenung dan beharap ada uang turun, atau memikirkan kemana lagi bisa mendapat pinjaman.
Kalau kata seorang alim, “Lebih baik tidur ketimbang memikirkan takdir.” Betul. Ini betul. Daripada memikirkan keputusasaan lebih baik kita rehat sejenak, tidur. Usai tidur? Nah, kita perlu memikirkan langkah ke depan dengan jernih dan terbuka, “memulainya dari nol” atau move on. Bukan malah kembali memikirkan “takdir” atau kesusahan yang menimpa. Jika kita kembali memikirkan keputusasaan tadi, bisa-bisa kita justru akan berprasangka buruk pada Tuhan dan mengkufuri nikmat, dan menyalahkan semuanya. Di sini, pentingnya mindset kita bekerja. Pentingnya pikiran positif kita hadirkan. Saking pentingnya berpikir positif, para pakar sampai merumuskan terapinya. Itulah mengapa Allah Swt berfirman dalam hadits qudsi, “Aku sesuai persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau” (HR. Ahmad).
Dalam skala yang besar saja, kaidah perubahan tetap berpaku pada sesuatu yang kecil. Sebut saja bagaimana Islam hari ini bisa menyebar ke seluruh penjuru dan wilayah bumi. Peradaban Islam, dalam hal ini agama Islam, bermula ketika Muhammad bin Abdullah menerima wahyu dan mengalami apa yang kita sebut sebagai peristiwa kenabian. Persoalan sebesar itu, yakni kewajiban menyebarkan Islam dimulai dari satu orang sebagai pemikulnya. Apa yang dipikirkan Nabi Muhammad? Apa perasaan beliau? kita bisa simak firman Allah dalam surah at-Taubah ayat 128, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
Kita bisa perhatikan, bagaimana pikiran dan perasaan Nabi bekerja. Meski begitu berat, Nabi selalu optimis. Kita pasti masih ingat ketika Nabi ditawari oleh malaikat untuk menghancurkan orang-orang yang melemparinya pada peristiwa Thaif. Lalu, apa jawaban Nabi? “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Setelah diperlakukan seperti itu, dengan ujian yang begitu berat, Nabi tetap berpikir optimis, masih berprasangka baik.
Itulah mengapa di setiap belenggu persoalan yang sedang menimpa kita, berpikir positif dan berprasangka baik adalah cara awal terbaik untuk menaklukannya. Jika sampai sini saja kita tidak bisa, akan jauh lebih sulit untuk melangkah dan bergerak. Dari pikiran tertutup dan prasangka yang buruk, kemauan untuk bergerak (dalam kebaikan) jelas tak ada, begitu juga kemalasan pasti akan menimpa.
Sebaliknya, dengan pikiran yang jernih, positif, terbuka, dan prasangka baik, pintu-pintu yang lain akan terlihat. Kemauan juga kuat, serta ada motivasi besar untuk keluar dari jerat persoalan yang membelenggu.
Wallahu a’lam bishawab. Semoga kita selalu dimudahkan di setiap urusan. Selalu diberi jalan kemudahan bersama datangnya kesulitan atau ujian yang menimpa. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Insyirah, “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” []
Viki Adi N
