Islamic Book Fair Jogja, Pasar Kangen, dan Buku

Beberapa hari lalu saya mengunjungi Pasar Kangen Yogyakarta. Euforianya luar biasa, efek pandemi mereda sepertinya. Nama “kangen” benar-benar menjadi kenyataan. Tak hanya menjajakan makanan/ jajanan jadul dan barang lawas, ternyata buku-buku lawas juga berserakan memenuhi lapak di sekitar galeri atau pameran seni. Pemandangan yang menggembirakan, meski tak ramah kantong jika melihat buku-buku langka atau koran-koran lawas. Tapi bagi kolektor, tentu saja harga tak akan jadi masalah. Namun, buku-buku yang obral atau murah juga tak sedikit.

Soal pengunjung? Wah jangan ditanya. Membludak. Di hari senin saja, yang jelas-jelas bukan akhir pekan justru pengunjungnya lebih banyak dibanding hari ahad. Entahlah, tiba-tiba saya teringat dengan pergeralan yang bertajuk “pameran buku Islam terbesar di Jogja”, ya tak lain kalau bukan Islamic Book Fair (IBF) Jogja.

Saya pikir-pikir, kok lebih menarik pasar kangen dibanding IBF Jogja ya? Bagi penggemar buku, mungkin saja akan mengatakan seperti itu. Tak lain bisa kita lihat dari sedikitnya jumlah stand buku di IBF Jogja pada pameran di bulan Agustus (2022) kemarin. Selain stand buku yang terbilang terlalu sedikit―jika dibandingkan dengan stand jenis lain seperti: makanan, herbal, dan fashion―juga karena pengunjungnya yang terlampau sepi. Tak berlebihan kalau saya katakan “sepi nyenyet”.

Saya berani mengatakan demikian karena saya pernah beberapa kali ikut event IBF Jogja yang mana ketika saya ikut di zaman dahulu kala, masih terasa besar pengunjungnya. Kami membawa nama Gaza Bookstore ketika buka stand dan mengobral buku dengan diskon besar, sampai-sampai para pembeli berkata, “Kok, diskonnya lebih besar dari penerbitnya?” Padahal penerbitnya ada di sebelah stand kami (pis!). Meski kala itu stand buku mulai berkurang, namun ketercapaiannya masih di atas 50%. Penerbit-penerbit besar juga masih terlibat. Ada Pustaka al-Kautsar, Gema Insani, Pro U, Itishom, Aqwam, al-Qowam, dan toko-toko buku besar dan aneh-aneh lainnya. Sementara IBF kemarin (Agustus 2022), saya hanya melihat Pro U dan Pustaka al-Kautsar, sisanya toko buku yang hanya bisa dihitung jari. Aduhai malang sekali ini.

Saya sampai berkelakar ke istri dan kawan-kawan penyuka buku lainnya. Ini penyelenggara―you know who i mean―apa benar-benar tidak tahu momentum yang pas dan tepat? Agustus ini masa-masa mahasiswa di Jogja libur. Berdasar pengalaman saya buka stand di IBF Jogja yang bertempat di GOR UNY, pengunjung terbesar adalah mahasiswa atau para mantan mahasiswa yang sudah bekerja atau memang tinggal di Jogja. Percaya atau tidak, nyatanya mereka itulah yang selalu melarisi buku-buku dagangan. Padahal kalau mau sabar sedikit, Sang penyelenggara bisa mengundur pameran di akhir bulan Desember 2022 (akhir tahun) sampai awal Januari 2023 (awal tahun baru). Nah, insya Alloh kondisinya tak akan sememprihatinkan yang kemarin. Dan kita tahu bahwa setelah bulan Agustus, mahasiswa sudah masuk seperti biasa, maksud saya sudah offline (ngga zoom-zooman saja). Artinya sudah ramai kembali.

Itu yang pertama, kita melihat dari segi momentum. Meski saya bukan orang marketing, tapi soal beginian saya sedikit-sedikit tahu. Kemudian yang kedua, nah ini sebenarnya bayangan dan impian saya yang agak mustahil. Adalah bagaimana Sang penyelanggara IBF seharusnya mengundang atau bersilaturahim dengan penerbit-penerbit (Islam) di Jogja lalu mendiskusikan mengenai persoalan literasi, budaya ilmu, dan semacamnya yang pada intinya bahwa pameran buku itu perlu. Ia menjadi semacam fasilitator agar suatu pameran buku Islam bisa terwujud dengan peserta yang pure benar-benar penerbit atau toko buku Islam. Bolehlah ada tambahan makanan, herbal, fashion, dan lain sebagainya asalkan presentasinya kecil atau tidak mengalahkan tujuan utamanya. Coba perhatikan mengapa Islamic Book Fair Jakarta bisa selalu ramai. Bukankah karena sebagian besar pesertanya adalah penerbit dan toko buku yang saling memberi promo besar? Selain itu, tentu saja karena agenda-agendanya juga menarik. Memang, penyelenggaranya langsung dari ikatan penerbit. Jadi wajar pesertanya memang para penerbit yang berada di sana.

Mengenai tempat, jika GOR UNY dirasa mahal, maka cari alternatif tempat lain yang mana sewa stand untuk penerbit atau toko buku bisa diminimalkan. Selain itu, Sang penyelenggara juga bisa bekerja sama dengan banyak komunitas literasi, TBM, dan sejenisnya. Stand juga tak perlu disetting “mewah”, cukup diberi batas sewajarnya saja antar stand tanpa perlu susah payah membangun semacam “tembok”. Sisanya biar para empunya stand yang menghias. Tekan seminimal mungkin biaya jika memang masih memberatkan para peserta.

Kalau kita ke pasar kangen, para pelapak buku hanya menggelar karpet kemudian menjajarkan dan menumpuk buku-bukunya. Beberapa pameran buku-buku komunitas sastra atau penyuka literasi biasanya juga begitu. Sederhana, tapi ramai dan meriah. Ini soal trik untuk menekan biaya. Kalau biaya tak ada masalah, semewah apapun silakan. Bukankah yang tahu berat atau tidaknya itu para penerbit dan toko buku? Nah, itu titik point yang harus dipikirkan oleh Sang penyelenggara.

Ketiga, soal bagaimana menarik pengunjung dari sebuah acara di panggung. Di suatu pameran, panggung adalah hal yang tak bisa diabaikan begitu saja. Tak hanya pembicara yang menarik dan terkenal, kesesuaian acara di panggung dengan pameran juga menjadi sesuatu yang penting untuk diperhatikan. Saya lihat di beberapa IBF terakhir, porsi yang berkaitan dengan buku terlalu kecil. Bisa kita lihat dari jumlah kajian yang berkaitan dengan buku, bedah buku, literasi, atau mengenai kepenulisan. Coba lihat di pameran-pameran komunitas atau buku-buku sastra, acara-acaranya begitu menarik. Ada kelas menulis esai, ada kelas menulis dan membaca puisi, ada agenda musikalisasi puisi, ada drama pertunjukan, bedah buku, dan semacamnya. Hampir sebagian acara berkaitan dengan buku. Sesekali ada semacam selingan konser kecil atau akustikan.

Sudah dua kali kalau tak salah saya menuliskan mengenai persoalan ini. Tak lain saya berharap agar IBF Jogja bisa ramai dikunjungi layaknya pameran buku sastra atau pasar kangen. Sudah tentu sebagai seorang Muslim, buku dan perpustakaan adalah hal yang tak bisa kita lepaskan dari penanda kemajuan sejarah peradaban kita di masa lampau.

Tulisan ini hanya catatan yang saya yakin tak akan sampai kepada Sang penyelenggara. Anggap saja notasi kecil dari seorang yang selalu suka dengan buku dan memperhatikan pernak-perniknya. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *