Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com
Bagi sebagian orang, mimpi mungkin hanya sebatas bunga tidur yang menemani di malam hari. Bagi sebagian yang lainnya, mimpi adalah hal-hal yang ingin dicapai suatu hari nanti. Tidak hanya dicapai, tetapi juga berusaha diwujudkan.
Terlepas dari apa itu definisi mimpi, di dalam tulisan ini penulis tidak akan membahas mimpi dalam arti bunga tidur, melainkan mimpi sebagai hal-hal yang ingin dicapai.
Kita seringkali memahami bahwa mimpi hanyalah sekedar mimpi, tidak perlu dicapai karena pada hakikatnya mimpi yang kita bayangkan hanya sebatas untuk dibayangkan. Namun, ada juga yang memahami bahwa mimpi haruslah diwujudkan, ditulis dalam kertas samson berwarna coklat dan ditempel di dinding kamar.
Meskipun agak terdengar kuno, namun ada orang-orang yang meyakini bahwa ini cara paling ampuh merealisasikan mimpi-mimpi yang pernah dibayangkan. Sehingga, kita tidak hanya sampai tahap membayangkan, melainkan mecoba membuat perencanaan lalu merealisasikan.
Sayangnya, memiliki mimpi artinya harus siap dengan segala resiko dan kondisi dalam memperjuangkannya. Tidak jarang pula yang akhirnya menyerah di tengah jalan, dan memilih merevisi bahkan meng-cancel mimpi yang pernah dituliskan.
Fenomena inilah yang sering disebut sebagai fenomena Pisau Cukur Ockam. Pisau Cukur Ockham sendiri merupakan pisau atau alat cukur yang sering dipakai dalam dunia pangkas rambut.
Nama Ockham sendiri merupakan milik seorang biarawan dari Orde Fransiskan di Inggris. Beliau, bernama lengkap Willian dari Ockham atau dikenal dengan nama baptis Ockham Razor.
Di dalam dunia filsafat teori ini menjelaskan bahwa entitas tidak seharusnya diperbanyak melampaui yang apa yang seperlunya. Di dalam arti lainnya Pisau Cukur Ockham ini menekankan pada cara berpikir yang sederhana dibalik kebenaran suatu teori. Jika diibaratkan dua kesimpulan dari fenomena yang terjadi, ada kencenderungan kita akan memilih penjelasan yang paling sederhana, ketimbang memilih kesimpulan yang lebih rumit.
Teori Pisau Cukur Ockham ini sangat cocok untuk menjelaskan alasan mengapa kita mudah sekali meng-cancel mimpi yang pernah kita buat. Kita seringkali meyakini bahwa mimpi yang pernah kita impikan memang terlalu tinggi, sehingga sulit digapai.
Padahal, tidak semua mimpi yang pernah kita impikan terlalu tinggi, melainkan hanya usaha kita yang terlalu minim dilakukan. Kita seringkali menyakini dan mengafirmasi bahwa mimpi kita memang tidak perlu untuk diwujudkan. Karena bagi sebagian dari kita meyakini bahwa kita tidak mampu menjadi penjelasan yang paling mudah untuk kita terima, ketimbang faktor kurangnya usaha untuk mewujudkannya.
Teori Pisau Cukur Ockham memang terdengar seperti teori yang sederhana. Memilih sebuah kesimpulan sederhana dibanding kesimpulan rumit yang ada. Padahal, bisa jadi kesimpulan rumit yang terjadi merupakan penjelasan yang lebih tepat untuk menjelaskan kegagalan dari mimpi yang ingin kita wujudkan.

