Waktu Menapaki Jalannya

Bagi yang tengah jatuh cinta, waktu mengisi relung dada mereka dengan kegembiraan, sekaligus kecemasan. Seakan-akan, waktu menjelma menjadi jerat. Semakin cinta melekat, semakin kuat waktu menjerat. Jika cinta yang lama itu menukik, jerat itu akan kian mencekik.

Bagi para petani, waktu menjadi raja. Padanya mereka tunduk patuh. Kapan menanam, kapan menyiram, dan kapan memanen adalah titah dari sang waktu yang sombong. Tak bisa diajak berunding. Tak mempan untuk disogok.

Para seniman kadang kala melihat waktu sebagai benda nyata untuk diilustrasikan, entah itu angin, hantu, bahan kimia, seorang putri, payung, seuntai tasbih, atau seorang koruptor.

Bagi para ilmuwan, waktu umpama kertas yang mereka ingin lipat dan remas-remas. Atau lorong, yang dapat melemparkan manusia dari masa ke masa, maju atau mundur.

Bagi mereka yang terbaring sakit, waktu adalah musuh yang mereka tipu saban hari dengan harapan. Ya, harapan yang tak kunjung mereka dapatkan. Sendirian, tergolek lemah tanpa harapan, waktu coba mereka panggil-panggil, tak datang-datang.

Bagi penulis, waktu telah menjadi spekulasi yang mendebarkan. Apakah esok, semuanya akan berubah? Berubah menjadi baik atau buruk? Apakah kesempatan untuk hidup di dunia ini masih lama? Ah, sudahlah, selagi masih menghirup nafasnya dunia, kesempatan berbuat kebaikan masih ada bukan? Tapi, setelah menengok dunia lebih dalam, rasanya penulis ingin tidur lagi, baru bangun jika mendengar bunyi sangkakala hari kiamat. Ya, setelah dipikir-pikir, hari kiamat pasti akan terjadi. Tinggal bagaimana kita menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya guna melanjutkan perjalanan selepas menjalani segala dinamika di dunia fana ini.

Afif Nur Fauzan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *