Di dalam hidup yang supur-duper cepat seperti sekarang ini. Dimana informasi apapun bisa kita dapat dalam hitungan detik. Dan era globalisasi atau westernisasi yang ramai digaungkan oleh sebagian kalangan. Oleh sebab itu perlu adanya perenungan dari setiap apa yang kita kerjakan, memilah dan memilih diantara kegiatan yang dilakukan sehari-hari masihkah tetap di jalur apa yang di perintahkan Allah atau malah sebaliknya. Kalau bahasa saya perlu “menyendiri” meninggalkan sejenak kegiatan-kegiatan yang selama ini kita lakukan.
Tentu “menyendiri” yang dimaksudkan bukanlah lari dari apa yang menjadi tanggung jawab dan perkerjaan kita selama ini. Akan tetapi yang dimaksud menyendiri disini adalah merenunkan sejenak aktivitas yang dilakukan selama ini untuk mengetahui sejauh mana kita sudah melangkah.
Bagi anda yang masih tergolong muda, anda “menyendiri” merenungkan apakah jalan yang selama ini ditempuh sudah benar dihadapan Allah SWT atau malah kesenangan yang dianggap benar yang bisa berdampak negatif terhadap diri dan orang-orang sekitar. Untuk anda yang sudah lanjut usia, “menyendiri” ini adalah sebuah pekerjaan yang harus dibiasakan sebab dengan ini menyadari bahwa waktu itu sangat sebentar sehingga dengan hal ini bisa memperbaiki diri serta lebih dewasa dalam mengahadapi masalah.
Dengan “menyediri” mengharap agar jangan sampai kita yang sudah tahu akan hal yang sementara ini lalai dan menyesal nantinya. Lalai kalau semua apa yang kita akan kerjakan akan dipertanggung jawabkan dan ditanyakan. Kata orang-orang bijak “penyesalan itu datangnya terlamab tetapi sebelum menyesal renugkanlah apa yang akan dikerjakan!”. Dengan hal ini hidup ini akan tenang, tidak hanya di dunia ini tetapi juga alam akhirat.
Bukankah Allah sudah mengigatkan kita semua di akhir surah An-Naba’ bahwasanya esok akan ada orang yang sangat menyesal akan perbuatannya yang dilakukan di dunia, entah apa yang dilakukan ketika hidup di dunia tapi yang pasti perbuatan yang melanggar perintah Allah dan mengerjakan apa-apa yang Dia sudah larang. Apa kata orang itu “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah”.
Orang tersebut menyesal tapi sayang penyesalan yang dia sesali kala itu sudah tidak ada gunanya lagi. Penulis membayangkan kira-kira apa yang ditimpakan kepada orang tersebut sehingga dia ingin menjadi tanah yang hina dan tidak bernyawa. Sungguh ini yang dikatakan penyesalan di atas penyesalan yang saat ini kita sulit untuk membayangakan.
Sekarang semua itu tergantung kepada kita akan seperti apa esok; menyesal atau bahagia. Tetapi ingat menyesal esok adalah hal yang sia-sia karena pada saat itu semua perbuatan telah dipertontonkan dan harus dipertanggungjawabkan.
Allah kuatkan hamba ini dalam menjalani hidup yang penuh dengan fitnah
Allah berikanlah petunjuk agar hamba terus berada di jalan yang Engkau ridhai
Dan mampukan hamba untuk menjalankan petunjuk tersebut
Terakhir Istiqomahkan hamba .
ISMAIL
