“Para dai itu seperti pegawai listrik,” ungkap Syaikh Abbas As-Siisi dalam kitab Ath-Thariq ilal Qulub. “Ia pasang instalasi listrik di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel. Setelah itu aliran listrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah, dan tempat-tempat lain. Jika energi listrik itu tidak dialirkan, maka seluruh penjuru kota akan diliputi kegelapan. Meski sebenarnya, saat itu tenaga listrik ada dan tersimpan di pusat pembangkit listrik.” Demikianlah pengandaian tentang keberadaan dai, mubaligh, dan khatib di tengah masyarakat. Peranannya sangat vital, tetapi jika fungsi yang sangat penting tersebut tidak berjalan maka masyarakat tidak terbimbing dengan baik.
Para dai, mubaligh, dan khatib merupakan tokoh-tokoh kunci di tengah masyarakat. Keberadaannya tidak sekadar obyek pelengkap dalam acara-acara seremonial. Mereka hadir di tengah masyarakat, hidup di dalamnya, berinteraksi dengan warga, dan minimal sepekan sekali mereka memberikan arahan dalam khutbah Jumat. Merekalah orang-orang yang memastikan cahaya kenabian menyala di tengah masyarakat. Para dai, mubaligh, dan khatib di masjid-masjid merupakan penjaga gawang moralitas di kampung-kampung dan gang-gang.
Dengan niat untuk membantu memudahkan para dai dan khatib Jumat untuk menyiapkan naskah khutbah setiap hari Jumat, buku ini hadir. Langkah kecil ini merupakan kerja untuk menyalakan cahaya dari masjid.





Ulasan
Belum ada ulasan.