Buku ini mencoba mengeksplorasi paradigma ekokritik yang diterapkan dalam berbagai karya sastra bahkan animasi. Ekokritik juga dipadukan dalam aspek spiritual, harmonisasi budaya, cerita rakyat, posisi perempuan, krisis alam, pascakolonial, ketubuhan, mitologi, hingga rekonsiliasi.
Tak hanya itu, seluruh tulisan yang termuat dalam buku ini juga mencoba menempatkan sastra dan budaya sebagai ruang negosiasi. Negosiasi yang dimaksud tidak lain dalam rangka ikut andil dalam penyelesaian masalah lingkungan melalui kacamata sastra dan budaya yang menyasar kepada pembaca, masyarakat, bahkan pemangku kebijakan.
Kehadiran buku ini memberi kontribusi terhadap pengkajian sastra dan budaya dalam perspektif ekokritik. Segala buah pikiran para penulis dalam buku ini juga (semoga) memiliki dampak praktis untuk lebih sadar, baik dalam pemikiran maupun tindakan, terhadap isu-isu lingkungan.




Ulasan
Belum ada ulasan.