Prestasi Paling Membanggakan

Cuaca sedang tak menentu akhir-akhir ini, suhu udara pun berubah-ubah, pilihannya pun hanya ada dua, terkadang panas atau panas banget. Tapi itulah yang membuat kita bisa bersyukur, tak perlu menyiapkan pakaian empat musim. Hemat sekali bukan menjadi warga negara disini? Seharusnya bisa menjadi salah satu cara berhemat karena tak perlu mengeluarkan budget lebih dalam hal sandang. Ah tapi tabung-menabung menjadi suatu hal yang langka bagi manusia yang makan saja harus bersusah payah membanting tulang di bawah teriknya sang surya.

Membicarakan tentang banting tulang, saya jadi teringat ketika wawancara kerja. Ada satu hal yang masih terngiang-ngiang di benak saya; “Apa prestasimu selama ini?” tentu saja saya terdiam beberapa detik sebelum menjawab, mengingat-ingat apa saja yang sudah kulakukan selama ini ya? Melihat pajangan di rumah, Cuma ada foto kelulusan, piagam pun hasil dari seminar umum. Prestasi? Apa itu? Ikut lomba saja tak pernah menang (bukan tipe manusia ambis). Juara kelas ketika SMA, apakah itu termasuk prestasi yang bisa dibanggakan? Yah tanpa pikir Panjang, saya ceritakan saja seadanya, prinsipnya integritas dan tidak mematikan microphone ketika rapat, eh bukan itu maksudnya, yang penting tidak ada kebohongan antara kita. Dan ya tentu saja, harus selalu mau belajar dan meningkatkan kapasitas diri.

Selepas itu, saya masih memikirkan tentang prestasi. Jikalau parameter keberhasilan prestasi adalah piala, maka saya orang yang gagal. Jikalau parameter prestasi adalah piagam kemenangan lomba, maka saya orang yang kalah. Ketika parameter keberhasilan adalah dunia, maka hilang sudah akhiratmu. Ya, tentu saja kembali pada orientasi hidup kita, pedoman hidup kita. Apa yang mau didasarkan dalam mengambil sebuah prestasi. Bahkan sudah jelas dijelaskan dalam hadits bahwa barangsiapa yang lebih baik daripada hari ini adalah orang yang beruntung, barangsiapa yang hari ini sama saja daripada hari kemarin adalah orang merugi, dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin adalah orang yang merugi.

Pernyataan yang sangat popular dan tidak asing lagi didengar bagi kita. Terlepas dari statu hadits tersebut, namun bisa mengingatkan kita kembali terkait orientasi hidup ini. Dengan siapa kita berlomba selain dengan diri sendiri?

Yugana F.S 16/11/21

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *