Layaknya para pejabat negara yang terbagi ke dalam arus pragmatis dan idealis, begitu juga para penulis. Kita ringkas saja begini, pragmatis bertujuan hanya mencari “dunia” semata, sementara idealis bertujuan untuk menyebarkan gagasan-gagasannya. Silakan perluas sendiri makna “dunia”.
Jadi, sekarang kita sudah terbayang siapa itu penulis yang idealis.
Kalau buzzer? Sebut saja kebalikannya. Memang amat disayangkan masih ada yang katanya disebut cendekiawan Muslim yang masuk dalam pusaran pragmatisme ini. Contoh saja yang kemarin terjadi, soal keributan mengenai tak ada perintah sholat lima waktu di al-Qur’an. Lebih lama lagi misalnya, soal mempertanyakan tafsiran al-Qur’an, soal kenabian Rasulullah Muhammad, dan lain sebagainya. Hal-hal yang sudah pasti, masih mereka perkarakan. Apalagi kaitannya dengan sesuatu yang bersifat dinamis seperti perkara politik misalnya, tolong jangan ditanya soal itu. Menjilat itu sudah biasa.
Penulis yang idealis tak akan mau berkompromi soal jilat menjilat―apalagi kepada penguasa. Yang benar akan ia katakan benar, begitu juga yang salah akan ia katakan salah. Selain kebenaran apa yang dituliskannya, ternyata ada keberanian yang harus dimiliki.
Bagi generasi milenial masa kini, mungkin tak mengalami masa pembredelan banyak situs keislaman. Semacam Islampos misalnya. Memang, banyak tulisan-tulisan yang berisi “kritikan” kepada kebijakan penguasa yang tercantum dalam situs-situs para aktivis Islam kala itu. Ujaran kebencian adalah momok besar bagi para penulis untuk menjebloskannya ke dalam balik jeruji. Kalau kalian masih ingat dengan nama Jonru Ginting, berarti kita segenerasi.
Memang menjadi penulis yang kritis, apalagi jika ia kerapkali menulis tentang kritikan terhadap kebijakan penguasa, selain tulisannya yang tajam dan benar, ia juga harus pandai “bersilat lidah” dalam tulisannya. Esai-esainya harus bisa “melengkung” agar ia tak terseret pasal demi pasal. Ingat, kini sudah ada UU ITE. Kalimat-kalimat yang mengandung ujaran kebencian, provokasi, dan sejenisnya harus bisa “dijaga”. Soal ancaman, teror, itu juga hal yang mungkin.
Pada akhirnya, esai yang berkaki―yang ditopang oleh kuasa―memang yang kuat. Tetapi ia tak akan bertahan lama jika menyalahi prinsip kebenaran. Barangkali, ia hanya akan bertahan selama junjungannya masih bertahan di dalam posisi sebagai penguasa. []
Viki Adi N
