Ada satu kalimat yang selalu saya utarakan ketika seseorang menanyakan, mulai dari mana kalau mau suka baca dan nulis? Semenjak dahulu hingga sekarang jawaban saya masih sama, “mulai saja dari yang kamu suka”
Misalnya dia hendak membangun kebiasaan membaca, pasti akan saya sarankan bacaan yang ringan sesuai genre yang disukai, novel misalnya. Disadari atau tidak, dalam membentuk kebiasaan perlu sebuah kesadaran, bukan paksaan. Ketika kita terpaksa melakukan suatu hal kemungkinan besar akan terputus di tengah jalan atau hasilnya tidak maksimal. Berbeda ketika kita melakukannya sepenuh hati, sesulit apapun rintangannya pasti ada jalan. Sama seperti ketika kita hendak menuju ke puncak gunung, selalu ada langkah pertama yang harus dilalui. Awalnya memang berat dan melelahkan, namun ketika kita fokus akan mulai terbiasa dan sampai ke puncak pada akhirnya.
Meskipun dalam sudut pandang Imam Ghazali tentang ilmu fardu ‘ain dan ilmu fardu kifayah ini tidak tepat. Seharusnya membangun pondasi dasar keilmuan dahulu baru menuju ke ilmu sekunder dan tersier. Hal ini memang sudut pandang saya saja, mengingat kondisi generasi zaman sekarang yang mulai meninggalkan proses-proses rumit, maunya mudah-mudah saja.
Tentu saja dalam membangun kebiasaan ini perlu lingkungan yang mumpuni untuk membersamai, agar tidak keterusan membaca yang fiksi saja. Ketika kebiasaan membaca sudah tertanam di dalam diri, mulai naikkan level bacaan ke buku-buku non-fiksi dan kenalkan pada referensi yang otoritatif.
Kalau ketemu teman yang mau belajar gini, jangan di-bully ya karena masih newbie. Temani dia, kenalkan dengan islam yang sempurna ini, karena dakwah itu menyenangkan bukan?
Yuganafs 21/03/2022
