Menulis dan Perburuan Buku

Menulis dan perburuan buku, apa ada hubungannya? Kalau dihubungkan tentu saja ada. Sebenarnya ini pengalaman saya pribadi. Setiap kali saya menulis buku―yang kebanyakan isinya kumpulan esai―, untuk menunjang dan menguatkan argumennya maka biasanya saya melakukan apa yang disebut dalam judul tulisan ini, yakni perburuan buku. Pastinya, itu dilakukan ketika di rak buku saya pribadi tak tersemat apa yang dicari.

Pengalaman paling menegangkan atau sebut saja paling mengasyikkan adalah ketika saya menulis buku Serial Inspirasi yang terbit di tahun 2019 menjelang perhelatan Pemilu yang ramai dengan tagar #2019GantiPresiden. Buku ini adalah kumpulan esai panjang. Itulah kali pertama saya menulis esai dalam bentuk panjang dengan segudang rujukan baik buku lawas maupun terbaru. Tema yang disuguhkan pun bukan kaleng-kaleng, tapi cukup terbilang berat, yakni peradaban Islam. Bukunya sudah habis dan lama kosong. Semoga kalau tak mundur, di akhir tahun ini akan kembali mengudara dengan perbaikan di sana-sini.

Ketika menulis buku ini―waktu itu saya masih jadi mahasiswa tingkat akhir dan tinggal di Omah Literasi―, “pekerjaan” utama saya adalah memburu buku (baik offline maupun online), membacanya, serta tentu saja memulai menuliskan esai-esai panjang. Tak terhitung dalam satu bulan saya bisa membeli berapa banyak buku. “Paket?” Begitu ocehan kurir silih berganti hampir tiap hari datang. Sampai-sampai ada kurir ekspedisi wahana yang begitu hafal dengan saya.

Kala itu membeli buku terasa begitu ringan karena sebagai mahasiswa akhir saya sudah punya aktivitas sampingan, yakni jualan. Referensi paling mahal yang pernah saya beli untuk menunjang kepustakaan buku Serial Inspirasi ialah buku ISTAC Illuminated karya Syarifah Syifa al-Attas dari Malaysia. Berapa harganya? Tepatnya saya lupa, tapi harganya di atas lima ratus ribu dan belum termasuk ongkos kirim.

Di masa itu saya benar-benar menikmati apa yang disebut dengan membaca. Bahkan, saya sampai berpikir, “Mengapa saya lebih suka membaca, menganalisis, serta menuliskannya ke dalam buku (esai) daripada menuntaskan tugas akhir kuliah?” Ini pikiran yang tak begitu benar. Seharusnya sebagai mahasiswa yang baik, tugas akhir kuliah (Skripi/ Taks) tetaplah diselesaikan. Dulu saya punya pikiran kebalikannya. Beruntung selepas buku Serial Inspirasi mengudara, saya mulai menyicil penyelesaian tugas akhir. Pikiran itu saya ubah.

Itu hanya sebagain kecil yang bisa saya sampaikan di sini. Namun maksud dari tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa membaca (apapun, bisa buku-teks, peristiwa-konteks, dll.) juga sama pentingnya (dengan menulis) di dalam dunia kepenulisan. Kekayaan sumber dan data akan menguatkan argumen yang kita bangun. Tanpanya, ocehan kita dalam sebuah tulisan akan terasa hambar dan tentunya: tidak meyakinkan.

Untuk itulah sedari sekarang―sesibuk apapun kita―jika kita ingin belajar menulis, maka tetap luangkan waktu untuk terus membaca. Nah, perburuan buku adalah salah satu cara menikmati bacaan. Perlu diingat, buku yang terbit sekarang belum tentu bulan depan masih ada. Bisa jadi hilang selama-lamanya. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *