Menguraikan Pikiran

Tiba-tiba saja kalian menulis buku. Peminatnya banyak. Lalu ada seorang pembeli yang bertanya, “Bagaimana memulai menuliskannya?”

Sekarang, coba posisikan kalau kalian adalah orang yang sedang bertanya. Saya yakin kita semua di sini ingin sekali menuangkan gagasan dan pikiran-pikiran ke dalam sebuah tulisan. Hanya saja terkadang bingung memulainya dari mana.

Sebenarnya kalian tak perlu risau soal ini. Coba ingat-ingat lagi, pernahkah kalian tidak sependapat dengan kawan, tokoh, politisi, artis, bahkan dengan yang dianggap “lawan”? Soal apa itu? Lalu seperti apa yang menurut kalian benar? Tuliskan saja pikiran-pikiran itu. Dengan demikian tulisanmu lahir.

Itu hanya salah satu contoh saja. Banyak sekali cara untuk memantik pikiran kita keluar. Di awal kita belajar menulis, tulislah apa yang terus ada di pikiran. Soal referensi atau rujukan? Bisa ditepikan dulu. Paling penting ialah mencoba mengeluarkan ide, pikiran, emosi, dan semua yang ada di “dalam” ke sebuah tulisan. Itu yang terpenting.

Setelah selesai mengeluarkannya, bacalah ulang dengan pelan-pelan dan perlahan-lahan. Saya yakin tulisan yang “keluar” masih terasa “amburadul”. Coba edit pelan-pelan, rapikan tulisannya, ubah kalimat-kalimatnya agar orang lain lebih mudah mengerti. Baca berulang-ulang sampai kalian yakin bahwa kalau ada orang lain yang membacanya, maka mudah dipahami maksudnya.

Langkah selanjutnya, bagikan tulisan-tulisan pendek kalian tadi ke media sosial. Biarkan orang lain berkomentar. Tak usah pedulikan jika ada yang julid, sinis, dan sejenisnya.

Lakukan langkah-langkah di atas terus menerus setiap hari. Mungkin selama tiga puluh hari ke depan, tulisan-tulisan kalian akan menjadi sebuah antologi, sekaligus kebiasaan menulis juga mulai terbangun.

Di saat kebiasaan sudah mulai terbangun, di situlah kalian perlu mulai mencoba memperbaiki gaya-gaya tulisannya, atau memperpanjangnya, atau lebih mendalamkan bahasan, atau saya lebih suka menyebutnya dengan “menghidupkan” tulisan.

Bukankah itu sederhana?

Jadi, kalimat pertama di tulisan ini bukan lagi soal “tiba-tiba”. Saya yakin kalian semua bisa. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *