Beberapa waktu yang lalu, saat saya pulang ke kampung halaman tepatnya di Kebumen. Saya berkunjung ke Perpusda kabupaten Kebumen yang memang sudah saya rencanakan sebelumnya. Ini adalah pertama kali saya mengunjunginya semenjak saya di lahirkan di kota ini. Padahal dulu sekolah hampir tiap hari lewat situ. Alasannya karena memang dulu tak pernah akrab dengan buku.
Saat mengunjunginya saya pun tidak kaget dengan suasana -yang pada umumnya perpustakaan daerah di Indonesia- yang sepi, tenang dan sedikit pengunjung. Memang wajar bila tempat-tempat hiburan ataupun pusat perbelanjaan lebih ramai dari perpustakaan. Alasannya anda bisa menebak sendiri. Bagi saya mungkin karena masyarakat kita belum terbiasa dengan budaya semacam ini. Namun, kalau masyarakat tahu akan manfaatnya, saya yakin banyak yang mengunjunginya.
Mengunjungi perpustakaan umum memang menjadi alternatif untuk berhemat dengan tidak harus membeli buku setiap ingin membaca tema-tema baru. Kita bisa mengakses berbagai macam bacaan tanpa harus membelinya. Kita bisa meminjamnya dengan batas waktu satu minggu. Setelahnya bisa kita perpanjang atau meminjam buku lain lagi.
Saya pun akhirnya membuat kartu anggota perpustakan. Dan langsung memakainya untuk membawa pulang buku. Dengan batas waktu yang cukup singkat saya targetkan supaya bisa menyelesaikannya dalam waktu satu minggu. Kalau serius, satu bulan bisa baca 4 buku. Syukur-syukur, bisa berlanjut hingga satu tahun yang kurang lebih bisa menghabiskan 48 buku. Ya, itu tergantung diri kita. Mungkin angka ini bagi pembaca lanjutan sangat sedikit. Tapi bagi pemula seperti saya mungkin angka itu sudah lebih dari cukup. Apalagi sebagian dari kita lebih banyak menghabiskan waktu di depan gadget.
Memanfaatkan perpus kota mungkin sangat membantu kita hari ini. Ketika anda belum bisa menabung untuk membeli buku baru, atau anda sedang mencoba memulai membentuk habits membaca. Anda bisa datang ke perpus semacam ini. Apalagi dengan tema buku yang bejibun dalam berbagai bidang keilmuan dari fiksi hingga non fiksinya, dari satra hingga masalah seputar agama. Cukup bikin kartu anggota. Kita sudah bisa membawa pulang buku yang kita sukai.
Aktifitas membaca hari ini mungkin tidak sekental jaman dahulu, yang hari-harinya belum di isi dengan gadget. Sama halnya ketika membaca buku Kalam Pecandu Buku karya Ust. Yusuf Maulana yang menggambarkan kentalnya budaya membaca mahasiswa tempo dulu yang mungkin hari ini sebagian mahasiswa kita sangat awam dengan aktifitas semacam ini. Bahkan untuk mereka yang melabeli dirinya sebagai seorang aktivis.
Kembali ke topik. Dengan berbagai kemudahan yang bisa kita nikmati saat ini. Mungkin hanya kesadaraan akan pentingnya membaca lah yang bisa mengantarkan diri kita hingga masyarakatnya untuk menjadikan aktifitas ini sebagai keseharian dalam hidup. Lantas, bagaimana cara membangun kesadaran itu hingga menjadi aktifitas nyata?.
Itu semua bisa dimulai dari anda, tak terkecuali saya. Setelah kita sadar akan pentingnya membaca dan telah memulainya. Maka tularkanlah kepada keluarga di rumah. Pada adik, kakak, orang tua, maupun lingkungan tempat kita tinggal. Andaikan satu anak dalam satu keluarga melakukan ini, mungkin perpustakaan tak pernah sepi. []
Akhmad Suhrowardi
