Mengambil Momentum

Manusia mempunyai masa hidup relatif berbeda-beda. Tentu saja karena kita mempunyai batas perjalanan dalam hidup ini. Batas yang telah ditentukan kapan kita berhenti berjuang. Batasan itu adalah kematian. “Kullu nafsin dzaiqatul maut.” 

Rasulullah Saw mengatakan umur umatnya rata-rata adalah 60 tahun. Begitulah kita masa hidup tak panjang. Ternyata momennya sementara. Lantas sebenarnya apa sih yang kita cari dari dunia ini. Apakah kesuksesan? Kententraman? Kebahagiaan? Surga?. Sukses yang seperti apa? Tentram yang seperti apa? Bahagia yang seperti apa? Surga yang mana?. Begitu mungkin pikiran-pikiran yang sedang bertanya pada dirinya sendiri. Namun apapun itu haruslah bermuara pada ridha Allah Swt.

Saat kita tahu bahwa masa hidup kita terbatas. Maka apa yang harus kita lakukan?. Orang-orang terdahulu pun tahu bahwa hidupnya tak lama karena akan ada batas dimana manusia harus kembali. Maka ada ulama yang menulis dan berdakwah, ada pemimpin yang memimpin dengan amanah, ada seorang guru yang mengajar, ada seorang hartawan yang berwakaf, ada seorang ilmuwan yang memberikan peninggalan untuk umat dan masih banyak lainnya. Mereka semua melalukan itu tentu saja untuk beramal jariyah dan mengharap ridha-Nya.

Berangkat dari itu semua tentu saja hidup kita pasti ada yang kita perjuangkan terlebih bagi agama ini. Tinggal kita memilih perjuangan apa yang akan kita tempuh. Berjuang dengan harta kita bisa membantu sesama, dengan ilmu kita bisa memberikan cahaya kepada dunia, dengan tenaga kita bisa menggerakan roda kehidupan dunia. Tentu saja berbeda-beda bagi setiap orang. Namun yang pasti momen itu hanya sementara dan tidak akan lama.

Orang yang sedang berorganisasi pasti dia akan menjalankan amanah dan menggerakan organisasinya karena tahu masa amanahnya terbatas. Seorang presiden dia akan bekerja semaksimal mungkin karena tahu batas amanahnya hanya 2 periode dan tidak bisa nambah. Mahasiswa yang sedang kuliah pasti dia akan menyelesaikan studinya karena ada biaya dan waktu yang dipertaruhkan. Begitupun juga diri kita yang tahu akan batas hidup di dunia ini pasti akan giat untuk beramal dan menyiapkan bekal untuk kehidupan yang sebenarnya.

Semua manusia mempunyai perjuangannya masing-masing, namun momennya sementara. Maka jangan sia-siakan momen itu. Dan jaga baik-baik momen itu. Jangan sampai momen itu hanya terlewati tanpa ada aksi yang berakhir pada banyak hal yang disesali.

Adakalanya kita mungkin lelah dengan perjuangan hidup ini namun bukanlah itu yang membuat kita berhenti berjuang. Karena perjuangan dikatakan berhenti adalah ketika nafas berembus untuk terakhir kalinya.

Akhmad Suhrowardi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *