Apa ini kisah lucu dan menarik? Saya juga tak tahu. Kisah ini terbilang sudah agak lama sebenarnya. Bermula dari ada chat di tokopedia Gaza Bookstore. Ada seseorang yang menuliskan pesan mengenai buku Kehancuran Israel di Tahun 2022?. Pastinya memang agak lupa, tapi kira-kira isinya mengatakan kalau buku ini buruk, tidak sesuai fakta, bahkan ia membela Israel bahwa negara tersebut nyatanya semakin maju, dan seterusnya.
Saya tak tahu pasti apakah dia berkomentar seperti itu karena diniati murni sebagai kritik terhadap buku tersebut atau malah memang benar-benar bersimpati dan membela Israel.
Saya pribadi memang belum membaca buku tersebut. Jadi, tidak bisa menanggapi chat yang dikirimkan. Saya hanya sekadar tahu kalau buku itu adalah hasil analisis seorang ulama. Namanya saja manusia, jadi analisisnya bisa salah bisa benar. Mengenai judul? Sebagai orang yang lebih sering berada di dapur redaksi, penyusunan judul itu memang dibuat semenarik mungkin. Saya yakin orang bagian marketing tahu betul soal ini. Orang-orang yang bekerja di media, juga pasti mengerti benar soal beginian.
Buku yang mencantumkan judul secara rigid (dalam kasus ini mencantumkan angka tahun 2022) memang memiliki banyak resiko, apalagi jika tulisannya bersifat analisis. Resikonya seperti yang telah terjadi sebagaimana munculnya chat di atas. Ternyata di tahun 2023 Israel belum hancur. Faktanya masih ada, eksis, bahkan kabar terakhir mereka melakukan teror kepada anak-anak Palestina. Tapi jika benar, maka buku itu akan semakin nge-hype dan naik. Saya pikir penerbit sudah tahu resiko dan memikirkan matang-matang untuk meluncurkan buku dengan judul seperti itu.
Saya kemudian berkelakar, apa orang ini mengirim chat ke setiap seller yang menjual buku tersebut? Entahlah, saya juga tak peduli. Kalau memang diniati kritik, tentu saja itu hal yang baik. Tetapi jika sebaliknya, yakni karena simpati dan pembelaannya kepada Israel, maka sungguh amat disayangkan. Hari ini, masih ada yang membela penjajah? Itu sama saja seperti kita hidup di masa penjajahan membela pemerintah kolonial. Tak masuk dinalar.
Namun, itulah fakta. Tak hanya satu orang ini, bahkan jika kita perhatikan di banyak komentar akun media atau portal berita yang membagikan kabar mengenai Palestina atau Israel, yang membela negara zionis ini ada saja. Soal dia buzzer bayaran atau bukan, saya tak tahu. Tapi faktanya memang ada. []
Viki Adi N
