Jika Saya Jadi Presiden

Ibu yang sudah lanjut usia itu sempoyongan. Berjalan lambat sembari menawarkan dagangannya berupa keripik dan aneka kerupuk kepada orang-orang yang ditemuinya. Tersirat wajah sedih dan penuh harap agar orang mau membelinya. Dengan usianya itu, seharusnya Ibu ini sedang menikmati masa tuanya bersama senyuman cucu-cucunya di rumah.

Di depan supermarket, ini “super” loh ya bukan “mini”, ada kakek yang sudah begitu tua masih berjualan burger ala-ala gitu. Di usianya yang sepuh, seharusnya sudah bukan lagi berpanas-panasan di pinggir jalan menjajakan dagangan. Tapi apalah daya, kebutuhan keluarga dan anak cucunya pasti lebih diutamakan ketimbang kesehatannya sendiri.

Di tempat lain, ada bapak tua dengan pakaian lusuh yang mengayuh sepeda reotnya datang ke minimarket untuk mencari jajanan “enak” yang mungkin akan dihadiahkan kepada cucunya. Uang yang dimilikinya tak banyak, cukup untuk beli satu es krim sepertinya.

Itu baru tiga orang. Belum potret warga tak mampu yang tinggal di kolong jembatan, tidur di jalanan, atau hidup bersandar di bawah papan baliho kampanye menuju perhelatan pilpres 2024. Belum lagi warga yang sakit tapi tak mampu ke rumah sakit. Belum lagi yang makan ala kadarnya, yang penting bisa makan di hari itu. Semua menyisakan kesedihan yang begitu mendalam. Serasa ada jurang yang dalam, jarak yang jauh, antara the haves (orang kaya) dan kaum mustad’afin (orang miskin).

Sontak pikiran saya melambung jauh dalam dunia lain. Kalau saya jadi pemimpin tertinggi di negeri ini, maka yang akan saya lakukan adalah peningkatan kesejahteraan orang miskin. Itu yang akan saya lakukan selama lima tahun masa jabatan. Saya akan memerintahkan semua kementerian untuk mengarahkan programnya ke sana. Tak lupa juga, menggandeng seluruh ormas berbasis agama dan ormas pemuda untuk ikut terlibat dalam program besar ini. Tujuannya satu: tidak ada yang merasa miskin di negeri kaya ini.

Saya hanya akan fokus pada pembangunan sumber daya manusia—dalam hal ini rakyat kalangan bawah—bukan sekadar pembangunan fisik semata. Program pengentasan kemiskinan harus sampai ke tempat-tempat paling pelosok. Makanya, organisasi berbasis agama dan para pemudalah yang paling bisa diandalkan untuk berpartisipasi bersama melakukan hal ini. Organisasi agama, jelas merekalah yang paling dekat dengan basis kultur masyarakatnya. Organisasi pemuda, jelas merekalah yang memiliki ide-ide kreatif serta semangat yang membara. Pemerintah tak bisa bekerja sendirian. Kalau hanya bansos, mungkin bisa. Tetapi ini bukan sekadar bansos, saya ingin pengentasan ini sampai pada titik yang paling signifikan: sumber daya manusianya.

Semua uang anggaran yang sampai ke desa, semua ditujukan untuk program pengentasan kemiskinan. Semua elemen masyarakat bisa terlibat, mengurusi, dan mengawasinya sekaligus. Orang-orang yang mau memanfaatkan dana-dana itu untuk dikorupsi, pasti akan terbongkar dengan cepat.

Kalau kalian baca tulisan ini, mungkin kalian akan menganggap itu hanya khayalan belaka dan omong kosong. Saya katakan kepada kalian, ini memang khayalan. Saya memang sedang mengkhayal.

Lalu programnya seperti apa? Soal ini, saya akan mengumpulkan seluruh ahli serta praktisi ekonomi dan agama, serta para ahli dari beragam bidang untuk menemukan apa saja yang harus dilakukan selama lima tahun ke depan berdasarkan analisis mereka untuk mengentaskan kemiskinan. Ingat! Ilmuan dan praktisi, ahlinya ahli, bukan sekadar politisi. Ini beda. Saya akan membentuk badan khusus untuk menanganinya. Kalau di masa covid ada “satgasnya”, nah kira-kira begitu juga dengan program pengentasan kemiskinan ini.

Setelah lima tahun, harapannya sudah tidak ada lagi orang yang merasa susah dan menyerah akan kehidupannya. Sungguh, ini memang khayalan tingkat tinggi.

Tak apa, mengkhayal itu gratis. Jadi jangan takut. Yakusa! []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *