Bertemu dengan Buku Hakadza

Hakadza Zhahara Jil Shalahuddin wa Hakadza ‘Adat al-Quds, nah itu judul asli bukunya. Ketika masih aktif di gerakan mahasiswa Muslim di kampus, kami punya program kajian fikrah dan gerakan (namanya KAHFI). Saya lupa waktu pastinya. Tapi yang jelas, itu terjadi ketika saya menjabat sebagai ketua di periode kedua. Kala itu tema selama beberapa pekan ialah sejarah peradaban Islam. Ketika bahasan masuk pada tema Palestina, Pak Yusuf Maulana yang saat itu jadi pembicaranya―mengingat kajian ini berganti-ganti pembicara jika ada tema yang berbeda―menyebut judul yang telah disebutkan tadi. Dari situlah saya bertemu dengan buku itu dan mulai intens membacanya.

Kala itu, saya hanya mendapat versi pdf yang kemudian dicetak ke tukang photo copy. Maklum, bukunya sudah tidak terbit dan tak ada lagi yang menjual versi originalnya. Judul versi terjemahnya adalah: Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib; Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina. Panjang sekali masszeeeh. Ya, begitulah. Buku itu ditulis oleh Dr. Majid Irsan al-Kilani dan diterjemahkan oleh (Ust.) Asep Sobari, Lc. (kalau tak salah penerjemah buku ini sekarang adalah pimpinan INSISTS) .

Bahasan Pak Yusuf waktu itu menarik minat saya, di balik kemenangan Shalahuddin al-Ayyubi ternyata ada peran ulama-ulama besar jauh sebelum nama Shalahuddin sendiri muncul. Salah satu yang paling besar ialah Imam al-Ghazali, lalu dilanjutkan oleh ulama-ulama berikutnya dari Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan perhimpunan para ulama dan madrasah-madrasah di masanya serta setelahnya. Awalnya saya heran, “Kok bisa Imam al-Ghazali?” Itulah mengapa kajian ini begitu menarik. Semenjak kecil saya tahu Imam al-Ghazali lebih kepada kesufiannya (mengingat saya lahir di lingkungan NU) dan ketika mahasiswa lebih sering mendengar mengenai kefilsufannya. Seusai agenda itu, proses pencarian buku saya lakukan.

Hasil photo copian itu saya baca serius. Saking seriusnya, sampai saya mengikuti pula karya-karya Imam al-Ghazali dan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Anak-anak kampus banyak yang belum tahu mengenai buku ini di masa itu. Saya pikir, para pendidik dan aktivis dakwah harus membaca bukunya. Dan benar saja, setelah beberapa waktu lamanya, saya berkesempatan untuk membedah buku ini ke beberapa sesi di kajian perpustakaan Masjid Mujahidin UNY. Nah, ketika kajian di perpustakaan inilah, buku yang judulnya panjang pake banget ini diterbitkan ulang berdasarkan edisi revisinya. Judul terjemahannya pun baru: Model Kebangkitan Umat Islam.

Di tulisan singkat ini, saya tak akan spoiler. Tetapi dari buku inilah, minat saya pada tema peradaban Islam tumbuh. Saya terus mempelajarinya, tak hanya dari sisi politik dan aktivisme, namun juga dari sejarah keilmuannya. Buku ini menyuguhkan fakta besar mengenai pentingnya ilmu yang benar dan peran pendidikan dalam menjadikan manusia yang baik. Mengubah manusia yang takut dan tak peduli pada agamanya menjadi manusia yang memiliki ghirah tinggi, rela berkorban, dan siap berjihad melawan kaum frank (sebuatan pasukan Salib). Dari fakta itulah, proses munuju kemenangan tiba. Mungkin itu singkatnya.

Buku ini tak hanya berisi cerita, tetapi juga analisis yang tajam mengenai kondisi-kondisi sebelum perang Salib, maksudnya kondisi internal dan eksternal umat, bagaimana bisa jatuh dan hancur, sampai analisis mengenai kebangkitannya. Kita akan disuguhkan fakta mengenai peran madrasah yang saling berhimpun untuk memperbaiki kualitas umat di masa itu, termasuk dalam melahirkan sosok-sosok pemimpin terbaik. Di buku edisi revisinya, penulis telah menambahkan beberapa bab baru, salah satunya mengenai peran perempuan.

Lah, kok malah jadi spoiler yah. Tentu begitu sayang untuk dilewatkan. Hemat saya, buku ini sangat mengena dengan kondisi kita hari ini selaku umat Muslim. Ketika membacanya, meski saya dibawa pada masa lalu tetapi seolah-olah saya mengalaminya di hari ini.

Kalau tak bertemu dengan Hakadza, mungkin buku Serial Inspirasi tak akan pernah lahir. Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. []

Viki Adi Nugroho

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *