Menurunkan Ego dan Keluar dari Zona Nyaman

Sebenarnya, sudah dari satu pekan yang lalu saya ingin menuliskan tentang ini. Agaknya waktu belum memihak, pekerjaan mengurus beberapa naskah telah menyita dan membuat lupa. Nah, pada kesempatan kali ini saya akan coba uraikan masalah yang sepertinya sering terjadi dan mungkin menimpa sebagian muda-mudi zaman kini.

Saya mendapati cerita bahwa ada seorang (mantan) aktivis pergerakan yang saban pekan atau malah beberapa kali dalam sepekan meminjam uang kepada seniornya dahulu (maksudnya senior di gerakan mahasiswa). Ini kisah nyata, bukan bualan atau sekedar cerita omong kosong. Orang ini sudah sarjana strata dua dan berkeluarga. Tentu saja sudah punya anak.

Tiap saban pekan ada saja alasan untuk meminjam. Mulai dari anak sakit, istri sakit, hingga persoalan macam-macam lainnya. Sampai-sampai yang dipinjami bingung dan akhirnya terheran-heran, “Sebenarnya Si fulan ini kerja apa?”

Nah, singkat cerita ternyata Si fulan tidak bekerja. Lebih tepatnya hanya ingin mengerjakan suatu pekerjaan atau project yang ada di depan laptop, main trading, saham, dan apalah semacamnya.

Ketika saya mendengar cerita ini―yang sebenarnya tidak sengaja mendengarkan beberapa obrolan orang di penerbit―saya terhenyak dan heran, “Itu beneran? itu Lulusan S-2? Dan sudah berkeluarga?” Tiba-tiba saja saya nylethuk ke obrolan tersebut.

Aduhai, sedih sekali saya mendengar hal yang demikian. Mengapa? Karena hal ini: ketidakmauannya untuk menurunkan ego dan keluar dari zona nyaman. Itu saja. Bayangkan, bukankah dia sudah berkeluarga dan memiliki tanggungan yang harus dinafkahi?

Saya yakin, jika mau bergerak dan melangkah keluar dari tempat ia duduk di depan laptop, insya Allah ada yang bisa didapat dan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan menafkahi keluarga. Sayang, agaknya formalitas gelar telah membuatnya tak mau menurunkan ego atau gengsi. Kemudian ditambah faktor zona nyaman. Lengkap sudah.

Sepertinya, kita perlu mengingat wejangan baginda Nabi Saw. ini yang saya kutip dari hadits di buku Prophetic Parenting (2010: 59)―buku ini sering saya rekomendisakan ke kawan-kawan yang bertanya soal buku parenting atau pernikahan;

“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedehkahkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu; paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim)

Sampai sini sebenarnya persoalannya sudah selesai, yakni ketika kita merenungi hadits ini. Nah, persoalannya kini ialah adanya sebagian muda-mudi yang justru menikmati zona ini dan terpaku pada suatu pekerjaan yang hanya berada di depan laptop, gawai, dan semacamnya. Kasus di atas mungkin hanya satu dari sekian banyak fakta yang terjadi.

Tentu saja, semua orang zaman kini berharap bisa bekerja nyaman di depan gawai, laptop, dan alat-alat canggih semacamnya. Lalu duduk di kursi yang nyaman dengan tiupan AC yang segar.Tapi, apakah semua pekerjaan seperti itu? Nyatanya tidak. Di dalam siklus kehidupan, semua pekerjaan itu pasti fungsional dan saling menunjang―tentu saja yang haram menjadi pengecualian. Misalnya, pengambil sampah di rumah-rumah. Mungkin, sebagian meremehkan pekerjaan ini. Tapi coba kita pikir, bagaimana jadinya jika tidak ada pekerja di bagian ini?

Betul! Bisa dipastikan sampah akan menumpuk, bau yang tidak sedap muncul, penyakit juga berdatangan, dan beragam persoalan lainnya. Tak perlu kita sebut dan jelaskan satu per satu pekerjaan lainnya lagi. Jadi, kita tak perlu memandang rendah mengenai suatu pekerjaan. Sekali lagi, pada faktanya semua bermanfaat dan mulia.

Dengan memahami soal ini, akhirnya kita mengerti dan sadar bahwa tak mesti semua orang berada di depan laptop saja untuk bekerja. Di penerbitan atau toko buku saja―berdasarkan pengalaman saya―, ada orang yang bekerja di bagian redaksi (otomatis di depan laptop), ada yang bagian packaging (otomatis bekerja fisik), ada juga bagian pengantaran misalnya (jelas sekali ini juga fisik). Begitu juga pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Hatta, hal-hal semacam di atas perlu kita perhatikan baik untuk kehidupan diri kita pribadi maupun generasi muda saat ini. Semoga kita terhindar dari rasa malas dan kesombongan. []

 

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *