Rezeki Mencuri

Baiklah kawan, akan saya katakan kepada kalian. Saya sebenarnya orang yang selalu percaya kepada teman atau sahabat. Saya orang yang terbiasa membagikan ide atau “project” apa yang sedang dikerjakan, dan segala macam apapun itu. Tentu saja hal-hal privasi menjadi pengecualian.

Tentang berbagi ilmu misalnya. Mengingat saya bukan orang alim (baca: banyak ilmu), maka jika diminta berbagi ilmu―yang sebenarnya sangat sedikit ini―, jawabannya: Ok. Meski semenjak purna di aktivitas pergerakan mahasiswa, saya lebih banyak dikunjungi dibanding mengunjungi. Agaknya saya mengurangi ngisi diskusi yang memang bukan sesuai kapasitas saya. Beda kalau urusan bedah buku yang saya tulis, bisa dipastikan akan saya iyakan.

Tak terkecualikan mengenai dunia perbukuan. Saya kerapkali didatangi kawan, adik (junior), atau siapapun yang ingin berbincang soal perbukuan. Sebenarnya pengalaman saya belum banyak. Gaza Library sendiri baru usia empat lebih. Belum puluhan tahun lah istilahnya. Ketika mereka bertanya apapun, pasti akan saya jawab apa adanya. Bagi kawan di sini yang telah membaca buku saya berjudul Jalan Berliku di Balik Sebuah Buku pasti sangat tahu. Di buku itu saya uraikan perbukuan dengan terang semisal saja mengenai persoalan ISBN. Saya katakan apa adanya. Termasuk kisah bagaimana seorang kawan yang “dibohongi” oleh temannya sendiri.

Di TikTok, Reels Instagram, dan video Facebook saya pernah beberapa kali melihat tayangan yang menyindir soal teman yang mencuri ide bisnisnya. Dan katanya, di dunia ini memang tidak ada yang namanya teman atau sahabat, apalagi dalam dunia bisnis. Unggahan itu dibuat begitu menarik dengan gaya sindiran pedas.

Awalnya saya hanya ketawa saja dan tak pernah memikirkannya. Tetapi kini saya mulai menyadari. Memang ada benarnya. Syahdan, ingatan saya kemudian memandang jauh mengenai bagaimana “pencurian” ide-ide atau inovasi itu memang selalu ada dalam semua aspek, tak hanya bisnis. Jika mencuri terlalu jelek maknanya, kita ubah saja menjadi “rezeki”. Maksudnya “rezeki”-nya orang yang akhirnya bisa mendapatkan ide tersebut.

Sebut saja “perseteruan” dua sahabat alim antara Syed Muhammad Naquib al-Attas dengan Ismail Raji al-Faruqi mengenai soal empunya dan penggagas ide Islamisasi. Jika merujuk pada kritikan al-Attas di pengantar buku Islam dan Sekularisme-nya, bukankah ide Islamisasi jadi “rezeki” al-Faruqi? Kira-kira begitu. Kisah mengenai persoalan ini telah saya tuliskan dalam buku Serial Inspirasi. Pembaca bisa merujuk ke sana jika ingin melihatnya lebih jauh.

Baiklah, kembali ke topik yang sedang kita bicarakan. Jika “teks” atau “manuskrip” al-Attas yang telah diserahkan ke al-Faruqi itu telah menjadi “rezeki” baginya. Ternyata saya pernah menyerahkan “rezeki” semacam itu kepada kawan. Memang tidak dalam bentuk “teks” seperti al-Attas. Tetapi dalam bentuk ilmu, sebut saja audio dan visual. Kalau mau digabung juga tak apa.

Saya bagikan semua yang saya ketahui mengenai dunia perbukuan sampai bagaimana bisnis itu bisa berjalan. Saya tak tahu kalau di suatu saat nanti, ternyata semua apa yang pernah saya katakan dipakai olehnya. Sebenarnya, saya suka jika banyak dari kawan saya―khususnya yang menyukai dunia buku―berbondong-bondong mendirikan penerbit untuk menyemarakkan literasi dan ilmu. Adik-adik junior saya juga banyak yang akhirnya menjadi penulis dan membuat penerbitan. Alhamdulillah, jika saya selama hidup ini pernah menjadi motivator bagi mereka meski hanya soal buku dan pernak-perniknya (Sombong amat!).

Namun, ada satu titik rasa yang kadang bikin ketawa dan lucu. Tentu saja ketika ide-ide yang saya miliki dipakai oleh Sang kawan yang sebenarnya tahu semua itu dari saya pribadi. Kalau kata istri saya begini, “Urusan dapur kok dibagikan.”

Perkataan istri saya ada benarnya juga. Seorang empunya resto terkenal dan laris pasti tidak akan membagikan resep dapur atau resep rahasianya ke publik. Jika dibagikan pun, itu bukan resep rahasianya, hanya teknis-teknis tertentu saja. Dari situ saya menyadari mengenai pentingnya kita “memprivatisasi” ide-ide dan project besar kita. Mengenai apapun itu, tak hanya soal bisnis. Termasuk impian-impian dan keinginan-keinginan besar kita.

Akhirnya, “pencurian” atau “pengkhianatan” itu berbuah hikmah besar. Saya belajar begitu banyak. Begitulah kehidupan berjalan. Jika kalian adalah orang yang pernah atau merasa sedang “dicuri” ide-idenya, maka cara terbaik untuk menaklukan hal semacam ini adalah dengan terus banyak berinovasi.

Pesan saya, jangan ikutan balik “mencuri”. Tak masalah mencicipi atau melihat ide dan produk orang lain. Bahkan, itu perlu. Seorang koki hebat, tak mungkin ia memasak hanya dari “idealismenya” pribadi. Pasti ia telah mencicipi sana-sini aneka resep dan makanan dari koki-koki handal dan resto terkenal lainnya. Sesudah itu, buatlah sesuatu yang lebih baik darinya. Fokus pada “kekuatan” yang kita miliki. Temukan apa yang belum ada di kompetitor kita. Soal apapun, tak sekadar bisnis. Ubah semua itu menjadi peluang dan inovasi.

Bagi kalian yang belum memiliki pengalaman soal beginian, bersyukurlah. Kini waktunya bergerak. Tuliskan ide-ide dan capaian besar yang diinginkan. Bergeraklah untuk mewujudkannya. Singkirkan apa yang sekiranya tidak berhubungan dengan apa yang menjadi capaian besar tersebut. Pikirkan semua jalan ke arah sana.

Sampai sini, akhirnya buah “pencurian” bisa kita nikmati. Terakhir, jangan lupa tetap berbagi ilmu. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *