Menulis itu Berproses

Malam ini, Jogja diguyur hujan. Setidaknya di tempat saya mengontrak dan Gaza Library memasang alamat. Sejak 2017 sampai kini 2022 tercatat adalah waktu saya berproses dalam menulis. Setidaknya dalam menulis esai. Meski mungkin, rutinitas kuatnya ketika pelatihan menulis sebelum BNB batch 1 (yakni workshop menulis offline di Djoyo Container – cikal bakal program BNB).

Mungkin bagi yang mengikuti tulisan-tulisan saya dari tahun 2017 itu, tepatnya ketika buku Recharge Semangat Dakwah muncur ke publik, lalu membandingkan dengan tulisan yang ada di buku-buku terbaru akan terlihat agak jauh berbeda. Ya, betul. Tulisan di awal-awal cukup amburadul. Bahkan, di buku Serial Inspirasi pun, kalimat majemuknya begitu banyak. Orang mungkin membaca buku itu layaknya mendengar orang berpidato berapi-api. Sampai-sampai, hingga detik ini, penyuntingan naskah Serial Inspirasi agak tersendat. Saya sedang mencoba mengubahnya ke format penyajian lebih sederhana.

Tapi, saya menikmati prosesnya. Ini tergolong lama sebenarnya. Kalau kalian lebih rutin dan rajin dalam belajar dan berproses terus menerus di dunia ini, bisa jadi lebih cepat berkembangnya. Misalnya, beberapa teman di BNB saya lihat lebih cepat proses perkembangannya di banding saya dulu. Tentu saya bersyukur atas hal ini.

Dengan mengetahui bahwa menulis itu berproses, maka dengannya kita juga akan lebih bersemangat dan tak minder ketika melihat tulisan kawan yang lain. Tatkala tulisan kawan dirasa bagus, justru seharusnya membuat kita lebih bersemangat untuk menulis. Perkara hasilnya seperti apa, itu urusan lain. Kita sedang berproses. Itu yang perlu diingat.

Saya juga mengalami masa-masa itu. Bahkan sampai sekarang masih terus belajar. Membaca tulisan teman-teman di sini juga sebenarnya saya sedang belajar. Saya juga belajar banyak dari para penulis-penulis buku lain. Ketika mereka menyampaikan gagasannya, saya perhatikan baik-baik bagaimana cara mereka menyajikannya.

Menekuni dunia ini sebenarnya bisa juga berbarengan dengan yang lain. Misalnya, kalian adalah seorang guru di sekolah. Nyatanya, kalian juga tetap bisa menulis. Kalian bisa menjadi guru yang produktif menulis. Saya kerap ditawari untuk mengajar seni di sekolah (mengingat saya lulusan seni rupa). Saya memang ingin mengajar, tetapi saya merasa belum bisa meninggalkan dunia ini dan ingin tetap di sini. Sehingga kalian pasti tahu apa ujung tawaran itu.

Meski begitu, saya masih tetap sesekali mengasah tangan untuk menggambar. Kalau mendesain itu memang sudah biasa. Cita-cita memiliki studio (seni) pun masih ada, meski masih ada di angan. Nah, kini kalian yang sedang atau akan menekuni profesi tertentu dan sekaligus senang menulis, tekuni saja semuanya. Nikmati saja prosesnya. Memang, menulis itu berproses.

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *