Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com
A. Haji dalam Tinjauan Sejarah
Agaknya perjalanan haji menjadi satu dari sekian banyak rentetan sejarah yang memiliki banyak dinamika. Tidak hanya dilihat dari sisi politik, namun juga ekonomi dan kebudayaan.
Ibadah haji di Indonesia sendiri tumbuh dan berkembang seiring dengan masuknya Islam ke Nusantara. Berbagai macam teori dicetuskan untuk menjelaskan masuknya Islam ke Nusantara. Namun, yang pasti Islam masuk ke Nusantara tidak bisa hanya dijelaskan dalam suatu teori.
Perjalanan haji memang unik, tidak hanya karena membutuhkan tempat dan waktu yang khusus, namun juga harus menempuh perjalanan yang tidak sebentar. Jaraknya yang cukup jauh jika dihitung dari Indonesia membuat perjalanan haji sarat akan makna.
Bagi sebagian besar muslim tentu menjadi salah satu jamaah haji adalah hal yang dimpi-impikkan. Bagaimana tidak, antrian perjalanan haji yang memakan waktu puluhan tahun tentu menjadi salah satu sebabnya. Walaupun, kini perjalanan haji semakin mudah karena dibantu transportasi umum dan akomodasi yang memadai, tapi tetap saja dapat menjadi salah satu jamaah haji adalah sebuah kebanggan tersendiri.
Terlepas dari segala prosesnya yang panjang, perjalanan haji sendiri seringkali memakan korban. Bukan, karena ibadahnya, tetapi pihak-pihak yang mengambil keuntungan di dalamnya.
Banyak para calon jamaah haji yang seringkali mendapatkan fasilitas yang tidak layak antara yang dijanjikan dengan ketika keberangkatan. Tak sampai disitu, tak jarang pula ada jamaah yang sudah membayar uang perjalanan namun, justru mendapatkan penipuan dari calo yang menjanjikan keberangkatan haji.
Perbedaan kultur budaya di Nusantara dan Arab Saudi pun tak jarang menjadi kendala yang amat memberatkan bagi para jamaah haji. ketidakpahaman medan perjalanan membuat banyak dari jamaah haji yang akhirnya hanya terluntang-lantung di Arab Saudi.
B. Lahirnya Bagian Penolong Haji Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah organisasi modern yang cukup konsen dalam memperhatikan problem-problem perjalanan haji. Sudah tak aneh lagi, jika Muhammadiyah seringkali menjadi salah satu pelopor organisasi keislaman yang sering memperhatikan permasalahan umat.
Berlandaskan teologi Al-Maun, Muhammadiyah tumbuh menjadi salah satu organisasi besar Islam di Nusantara waktu itu. Sehingga tak jarang Pemerintahan Belanda pun memperhatikan gerak-gerik Muhammadiyah.
Dalam bidang perjalanan haji, Muhammadiyah menjadi salah satu garda terdepan dalam mengurusi problem umat. Muhammadiyah melihat banyak sekali berbagai kasus-kasus yang merugikan umat Islam, namun tak mendapatkan tanggapan apapun dari Pemerintahan Kolonial.
Maka, diutuslah K.H.M. Sudjak untuk melakukan ekspedisi pengamatan perjalanan haji. Ekspedisi yang dilakukan ini bertujuan untuk melakukan riset dan pengamantan terhadap penyelenggaraan haji yang dilakukan oleh Belanda dengan Kongsi Tiga. Dari sinilah bekal kemunculan dari sebuah bagian khusus di Muhammadiyah yang bernama Bagian Penolong Haji Muhammadiyah.
Bagian Penolong Haji Muhammadiyah bisa dikatakan sebagai lembaga perjalanan haji di era modern. Bagian ini memiliki tugas untuk memberikan pelatihan, pengajaran tentang perjalanan haji. Tidak sampai disitu, Bagian Penolong Haji Muhammadiyah juga turut mencarikan mana biro perjalanan haji yang terpercaya dalam mengurusi urusan haji.
Tercatat Bagian Penolong Haji Muhammadiyah cukup mendapatkan tempat di masyarakat. Bahkan pihak Kongsi Tiga ingin bekerjasama dengan Bagian Penolong Haji Muhammadiyah dalam urusan akomodasi perjalanan haji.
C. Tokoh di Balik Bagian Penolong Haji Muhammadiyah
Rasanya tak akan lengkap jika kita tak mengulik siapa tokoh dibalik Bagian Penolong Haji Muhammadiyah. Beliau adalah K.H.M. Sudjak, murid dari K.H. Ahmad Dahlan. H Sudjak adalah salah satu dari beberapa santri yang pertama kali belajar dengan K.H. Ahmad Dahlan.
Haji Sudjak dapat dikatakan sebagai orang yang amat tekun dalam mengurusi perjalanan haji. bahkan hingga akhir hayat beliau pun, perjalanan haji masih menjadi salah satu bidang yang beliau tekuni.
Dalam darah Haji Sudjak mengalir nilai-nilai sosial yang diturunkan oleh K.H. Ahmad Dahlan. Sehingga wajar jika K.H. Ahmad Dahlan amat mempercayakan PKU Muhammadiyah dipegang oleh Haji Sudjak.
Kontribusi beliau dalam bidang perjalanan haji sebenarnya tidak cukup sampai disitu. Dalam sebuah riwayat beliau juga turut serta menjadi salah satu dari 30 an jamaah haji yang mencetuskan ide untuk mendirikan PDHI. Sebuah yayasan khusus yang terdiri dari para alumni haji waktu itu.
Haji Sudjak mungkin salah satu tokoh bangsa yang seringkali terlupakan. Namun, kontribusi dan peran serta beliau dalam mencetuskan Bagian Penolong Haji Muhammadiyah menjadi catatan tentang organisasi pribumi yang menjadi cikal bakal dari lembaga haji di Indonesia.
Referensi:
Ahmad Muarif, dkk, Membangun Titian Menggapai Harapan: 1 Abad Melayani Umat, Yogyakarta: RS PKU Muhammadiyah, 2021
Lasa , HS, dkk, 100 Tokoh Muhammadiyah Yang Menginspirasi, Yogyakarta: Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, 2014
M. Raihan Febriansyah, dkk, Muhammadiyah 100 Tahun Menyinari Negeri, Yogyakarta: Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, 2013

