Rasa-rasanya, Islam kini selalu menjadi oposisi. Pernyataan ini seolah-olah memang ada benarnya jika kita melihat dari apa yang dimaksud oposisinya. Pemerintahan Islam sekalipun, dalam sejarahnya tetap diwarnai oposisi oleh sebagian umat Islam itu sendiri kecuali di masa Nabi Saw. Itu jelas. Nabi berpandukan dan dibimbing wahyu secara langsung. Tak ada umat yang akan membangkang. Semua sami’na wa atho’na. Memang ada kaum munafiq di Madinah, tetapi itu juga tak menjadikan baginda Nabi menghakiminya, misalnya seperti kasus Abdullah bin Ubay.
Di masa ini, di masa pemerintahan Pak Jokowi misalnya, kelompok Islam selalu disebut-sebut sebagai oposisi. Meski pada faktanya, tak semua kelompok itu oposisi. Buktinya, malah ada ormas Islam besar yang sebagian pemimpinnya dekat dengan penguasa (malahan jadi penguasa). Namun karena ini politik, maka setiap yang bisa muncul sebagai kekuatan oposisi akan selalu “dipandang” oleh pihak yang berkuasa.
Negara kita yang mayoritas Muslim memang agak aneh. Anehnya adalah di sini mayoritas Muslim, tetapi penyudutan “oposisi” berkesan megarah kepada aktivisme Islam. Seolah-olah ini memang sudah menjadi semacam “kultur” sepanjang sejarah negeri ini. Meski pasang surut tetapi jika kita melacak sejarah Islam di Nusantara, terjadinya oposisi umat diawali dari adanya penjajahan.
Penjajahan yang bermula dari Portugis, lalu Belanda, benar-benar mencabik-cabik kerajaan Islam dan memodernisasi banyak sistem. Dampak modernisasi ternyata tak yang baik-baik saja, misi kristenisasi hingga sekularisasi nyatanya benar terjadi. Makanya tak heran, pasca politik etis banyak bermunculan pemuda-pemudi Muslim yang terbelandakan (baca: terbaratkan). Oposisi terhadap Belanda terus saja terjadi meski pasang surut, berpuluh-puluh tahun lamanya. Belanda selalu mencurigai para Haji, para Kyai, santri, terutama yang mereka bisa memobilisasi massa (baca: pergerakan). Hal itu terus menerus berlangsung. Perang Diponegoro barangkali bisa menjadi salah satu sejarah perang besar di Jawa mengenai oposisi umat terhadap Belanda selaku penguasa.
Sejarah SDI (Syarikat Dagang Islam) juga menjadi salah satu sejarah oposisi yang kemudian lebih mengkristal di masa SI (Syarikat Islam). Gagasan nasionalisme dan pemerintahan sendiri muncul dari seorang Tjokroaminoto lalu mewaris kepada anak didiknya yang kita ketahui mengembangkan pikirannya masing-masing lalu menjadi sebuah gerakan kemerdekaan.
Setelah kemerdekaan, politik yang sangat liberal terjadi. Aktivis Islam yang memiliki wadah telah bersatu berada di bawah bendera Masyumi jauh sebelum merdeka,. tentunya membuat kekuatannya juga besar. Di sini, kita juga kerapkali melihat peran oposisi yang sangar ditunjukkan Masyumi. Meski beberapa kali memimpin kabinet serta mengisi koalisi melalui kementeriannya, nyatanya oposisi juga tak pernah usai. Bahkan beberapa pemberontakan yang mengatasnamakan Islam, sedikit-banyak ada hubungannya dengan tokoh-tokoh partai Islam ini. Jika dilacak, pemberontakan-pemberontakan tersebut nyatanya bukan hanya karena mengartikulasikan Islam sebagai ideologi atau dasar negara yang kemudian berhadap-hadapan denagn pemerintah. Justru ternyata berkaitan dengan kesenjangan dan ketidakadilan dari pemerintah pusat.
Mengerti akan sikap kritis dari tokoh-tokoh partai ini dan sepak terjangnya di masa Orde Lama, mungkin itulah yang menyebabkan Orde Baru tak mau membuka kran dan mematikan semua yang berkaitan dengannya. Selama masa pengekangan ini, apakah oposisi umat mati? Ternyata tidak. Justru bak bola salju, selama lebih dari dua puluh tahun membesar, membludak, dan berakhir dengan ledakan. Pecahlah reformasi.
Sebenarnya, oposisi yang terjadi di tubuh umat bukanlah oposisi laten yang serba apapun harus oposisi. Tetapi oposisi yang dimaksud berkaitan dengan kebijakan penguasa yang tak memihak pada umat dan rakyat secara umum. Misalnya mengenai monopoli “produk” hajat orang banyak oleh segelintir orang yang ternyata dilindungi oleh aparat dan birokrasi penguasa. Menurut Islam, tentu ini salah. Pemerintah selaku penguasa harusnya melindungi rakyatnya dari kejahatan struktural seperti ini dan mencegah penindasan kepada rakyat kecil. Alhasil, oposisi terjadi.
Artinya jika mau disimpulkan, oposisi yang dimaksud adalah oposisi terhadap “kebathilan”. Islam menjadi pandangan hidup, paradigma, dan kacamata untuk memandang dan mengartikulasikan persoalan-persoalan yang terjadi. Dengan begitu, jika di tahun 2024 Pemilu dimenangkan oleh kelompok atau aktivis Islam misalnya, oposisi dari umat Islam itu sendiri tetap akan ada. Apalagi jika ternyata dari pemenang pemilu ini tak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan besar di negerinya. []
Viki Adi N
