Tertipu dan Terlupa

Di suatu kesempatan, salah satu ustadz pernah membahas mengenai nikmat sehat dan nikmat sempat. Dua hal yang Allah berikan kepada manusia namun sering kali kita lalai memanfaatkan kedua rahmat tersebut dengan baik. Terlena dengan kata “menunda”, dan menyesal karena telah menyia-nyiakannya.

Secara terminologi, sehat menurut World Health Organization (WHO) adalah kondisi yang lengkap secara mental, fisik, dan juga sosial, serta terbebas dari suatu penyakit. Apabila kita merasakan itu semua, tandanya kita sehat. Namun, sehat saja apakah menjamin seseorang menganggap itu adalah sebuah nikmat? Bisa jadi tidak bisa jadi iya.

Ada orang yang diberikan kesehatan namun masih suka mengeluh dan menggerutu dirinya tak kunjung diberikan nikmat yang sesuai dengan definisi nikmat dunia baginya. Padahal dengan dia saat ini tidak sedang terbaring lemah karena sakit, itu sudah menjadi nikmat yang luar biasa dari Allah. Berbeda bagi orang yang menyadari bahwa sehat itu nikmat, dia akan lebih bersyukur serta menggunakan nikmat tersebut untuk kegiatan yang bermanfaat; mengumpulkan bekal pulang ke kampung akhirat.

Sedangkan, untuk nikmat sempat, adalah nikmat yang kerap terlupakan. Nikmat yang hadirnya sering luput untuk digunakan dengan maksimal. Yang mana pada akhirnya tergantung diri kita, akan menggunakan kesempatan yang diberikan Allah tersebut untuk kebaikan atau malah justru untuk melakukan kemaksiatan.

Permisalannya begini, jika seseorang telah menyelesaikan hak bekerja sesuai prosedur, lalu ia mempunyai waktu luang setelahnya, dan qodarullah ia mendapatkan kabar bahwa ada kajian agama di masjid dekat rumah di jam ia selesai bekerja. Lantas ia dihadapkan dengan dua pilihan, apakah dia memilih menyempatkan waktu sepulang kerja untuk menyimak dan belajar di kajian tersebut, atau memilih pulang ke rumah dan melakukan hal-hal yang kurang berfaedah. Kalau kalian, apabila dihadapkan dengan pilihan tersebut akan pilih yang mana?

Kembali lagi ke esensi pembahasan ini, dua nikmat yang telah disinggung di beberapa paragraf sebelumnya, merupakan nikmat-nikmat yang terbilang urgen serta sangat dekat dengan kita, tetapi tak jarang kita tertipu terhadapnya. Bahkan saking pentingnya dua nikmat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam pun bersabda, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu adalah nikmat sehat dan waktu luang (HR. Al-Bukhari)”. Jadi, apakah kita akan terus menerus tertipu dan lupa? Pilihannya ada di dirimu sekarang.

Sarah Az Zahra

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *