Sikap Hamka Dalam Perbedaan

“Dia baru murid. Ilmunya baru sekedar isi kitab yang dikarang gurunya. Tetapi karena ilmunya masih singkat, maklum masih murid, dia sudah berkeyakinan bahwa itulah yang mutlak benar.”

Begitulah pendapat Buya Hamka ketika ada seseorang yang terlalu mempermasalahkan perbedaan. Bagi Hamka seseorang yang masih mempersoalkan dan membesar-besarkan perbedaan seperti seorang murid yang baru saja mendengar pendapat dari sang guru. Lantas pendapat yang diperoleh gurunya dijadikan oleh si murid sebagai sebuah keyakinan dan kebenaran yang hakiki.

Kurang lebih lima puluh sembilan tahun Buya Hamka mengatakan seperti yang disebutkan di atas dan sampai saat ini apa yang diucapkan olehnya masih sangat relevan. Apalagi di era sekarang. Dengan mudahnya mendapatakan informasi (padahal informasi hanya didapat dari empat dan lima slide di Instragram), mudah juga menghakimi saudara muslim.

Diantara contohnya mereka yang mengatakan dengan lantang dan tanpa bersalah bahwa selain dari kelompoknya jelas tidak benar. Lalu mereka mengadili bahwa ibadah yang dilakukan selain yang dilakukan olehnya walaupun itu saudara seiman dianggapnya sebuah laku dosa besar. Jika kita lihat wajahnya nampak dari matanya memerah seolah saudara muslim tadi berbuat kesalahan yanga dalam padanganya yang sempit tidak akan diampuni oleh Allah Swt. Padahal pemahamannya saja yang masih pemahaman seorang murid.

Ada juga yang berbeda, dengan hal-hal yang sebenarnya sepele dan itu pun urusan keduniawian. Misal dalam memilih partai atau pemimpin yang keduanya pun dari Islam, lalu karena berbeda pilihan tersebut dimusuhinya bahkan lebih keterlaluan menghakimi saudara muslim sudah keluar dari Islam. Perbedaan yang mengarah pada perpecahan padah umat Islam seperti ini yang oleh musuh diluar sana diaminkan dan umat Islam tidak sadar akan hal itu.

Padahal perbedaan adalah sebuah hal yang biasa saja. Bahkan kata Hamka di dalam salah satu tulisannya menjelaskan bahwa perbedaan bisa mempertajam pikiran dan menunjukkan bahwa seseorang tersebut mempunyai pendirian yang tangguh. Dan dengan mengganggap bahwa perbedaan hal yang biasa itu bisa mengantarkan negeri ini lebih maju.

Sebab perbedaan yang terlalu dibesar-besarkan adalah sebuah kesia-siaan dan menampakkan bahwa kualitas diri masih perlu banyak belajar. Benar! apa yang dikatakan oleh Buya Hamka bahwa kecemasan mengahadapi perbedaan itu bisa timbul dari “murakkabun naqshas”, yaitu takut menghadapi kenyataan.

Ismail

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *