Silent Treatment

Bicara tentang perselisihan menjadi topik unik untuk dibahas dari sekian problematika manusia yang tak ada habisnya ditelan bumi. Masalah pasti datang saat hati dan pikiran mulai sedikit kacau dan tidak beraturan. Buktinya jadi stressful. gak tahu harus berbuat apalagi untuk menyelesaikannya. Mungkin kita harus memilih diam tanpa kata untuk sejenak melepas energi negatif yang terbendung dan tak ingin keluar dari belenggu manajemen hati (istilah khusus manusia yang mulai depresi ringan ataupun berat sekalipun).

Setiap orang memiliki cara untuk melakukan self-healing agar mereka mendapatkan ketenangan. Saat hati bergejolak dan ingin melampiaskan kekesalan akhirnya berubah menjadi sebuah tindakan yang sering kita kenal dengan ghosting atau mendiamkan orang yang ada di depan kita saat ini. Itulah silent treatment.

Padahal fenomena silent treatment dikaitkan dengan banyak hal. Misalkan saja dalam hubungan suami-istri. Sang suami membuat sebuah kesalahan besar dalam studi kasus komunikasi pasangan, lalu sang istri marah tanpa kata apapun dan mendiamkan pasangannya dengan cara cuek. Tidak mau diajak ngobrol atau damai. Dalam pandangan Islam ini tidak dianjurkan karena banyak kemudharatan pada psikologis pasangan, apalagi sang buah hati yang beranjak pada fase pertumbuhan.

Studi kasus lainnya ditemukan pada fenomena friendzone. Si A sudah memiliki hubungan pertemanan dengan I dan R selama puluhan tahun. Mereka bertengkar dengan alasan A sering berbohong pada I dan R. Saat kongkow (istilah anak muda yang sedang berkumpul di suatu tempat) A dijauhi oleh I dan R. Tidak diajak ngomong selama berhari-hari. Disinilah dampak toxic relationship bisa juga terjadi di lingkungan sekitar.

Ada hikmah dari segala hikmah. Semua tidak ada yang terlambat jika mau memulai pada perbaikan diri. Belajar untuk membuka diri saat ada perselisihan memang sulit bagi manusia yang tidak terbiasa untuk mengaku kalah. Kalau zaman sekarang istilahnya adalah pengakuan dosa. Jikalau agama bisa memberikan solusi, maka berilah value tersebut menjadi power of habits dalam kehidupan sehari-hari.

Fadhi QP

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *